Umar Taqwim sedang memberikan materi belajar membaca Al Quran dengan metode tsaqifa kepada ratusan peserta, di LPP Hotel dan Convention, Demangan, Sabtu (23/4/2016).(Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja) Umar Taqwim sedang memberikan materi belajar membaca Al Quran dengan metode tsaqifa kepada ratusan peserta, di LPP Hotel dan Convention, Demangan, Sabtu (23/4/2016).(Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja)
Minggu, 24 April 2016 14:20 WIB Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

BELAJAR MEMBACA AL QURAN
Metode Tsaqifa, Memadukan Otak Kanan dan Kiri

Belajar membaca Al Quran bisa dilakukan dengan metode tsaqifa, yang memadukan otak kanan dengan otak kiri

Solopos.com, SLEMAN-Belajar membaca Al Quran dengan metode tsaqifa, disebut sebagai metode yang memadukan kinerja antara otak kiri dan otak kanan, dalam diri orang dewasa.

Penemu metode tsaqifa Umar Taqwim pada Sabtu (23/4/2016) mengungkapkan, metode tsaqifa mengajak para peserta untuk mengenal huruf hijaiyah dengan kreatif, bukan secara tradisional seperti teknik yang selama ini diketahui kebanyakan.

Tsaqifa mengajak peserta menghafal secara sekilas sekitar dua sampai empat suku kata yang berasal dari huruf hijaiyah. Namun kemudian, peserta diajak lagi memahami huruf per huruf hijaiyah dengan mendalam, mulai dari bentuk huruf dan ketika huruf tersebut diberikan tanda baca.

Dengan demikian setiap orang yang belajar dengan metode ini bisa dengan cepat memahami dan membaca huruf hijaiyah dalam beberapa suku kata sekaligus. Metode ini juga mengajarkan peserta membaca huruf hijaiyah selayaknya ketika belajar ala ‘jembatan keledai’, membentuk beberapa suku kata ke dalam kalimat, yang mudah dicerna diingat dan dipahami.

Umar yang menjadi narasumber “Sosialisasi Membaca Al Quran dengan Metode Tsaqifa” di LPP Hotel dan Convention, Demangan ini menambahkan, walaupun metode ini mengajarkan orang dewasa cepat membaca Al Quran, ia menekankan beberapa hal penting.

Saat belajar, sebaiknya diawali dengan berpikir positif terhadap kemampuan diri sendiri dan jangan berpikir tidak bisa, pembelajar harus yakin bahwa membaca Al Quran itu mudah, bila mendapatkan kesulitan tetap bersabar, serta jangan enggan bertanya kepada yang lebih tahu.

Metode ini, imbuh dia, hadir di tengah keperihatinan bahwa ada banyak orang tua dan dewasa yang tidak dapat membaca Al Quran. Melansir data Badan Pusat Statistik 2013 ada 54% umat muslim di Indonesia tidak dapat membaca Al Quran.

Dalam analogi, bila ada populasi umat muslim Indonesia sebesar 200 juta jiwa, maka 100 juta orang di antaranya tak dapat membaca Al Quran. Penyebabnya, selain para orang dewasa ini sibuk dan serba ingin instan, mereka malu dan enggan belajar membaca Al Quran karena sudah dewasa, tua dan lainnya.

“Di sisi lain sistem pembelajaran membaca Al Quran yang ada, tidak sesuai bila diterapkan kepada orang dewasa,” ujarnya.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…