Sutomo, 48, warga Dukuh Miliran, RT 001/RW 003, Desa Mendak, Delanggu menunjukkan foto putranya, Bayu Oktavianto, 22, yang menjadi salah satu awak kapal yang disandera kelompok Abu Sayyaf. Foto diambil Selasa (29/3/2016). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Sabtu, 23 April 2016 12:35 WIB Ponco Suseno/JIBI/Solopos Klaten Share :

WNI DISANDERA ABU SAYYAF
Keluarga Sandera Minta Hindari Serangan Militer dan Rp15 Miliar segera Dibayar

WNI disandera Abu Sayyaf di perairan Filipina belum ada tanda-tanda akan dibebaskan.

Solopos.com, KLATEN –Keluarga Bayu Oktavianto, salah satu anak buah kapal (ABK) yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina berharap pemerintah Indonesia dan Filiina menghindari serangan militer dalam membebaskan sandera.

Sebaliknya, keluarga Bayu yang berdomisili di Miliran, Mendak, Delanggu berharap perusahaan PT Patria Maritime Line Cabang Banjarmasin segera menyiapkan uang tebusan Rp15 miliar guna mengakhiri masa penyanderaan Bayu cs.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com di lapangan, keluarga Bayu Oktavianto masih mencemaskan keselamatan awak kapal tongkang Anand 12 yang sudah disandera kelompok Abu Sayyaf hampir satu bulan terakhir. Semula, kelompok Abu Sayyaf meminta uang tebusan senilai Rp15 miliar kepada pemerintah Indonesia atau perusahaan kapal. Batas waktu uang tebusan itu, yakni 8 April 2016. Hingga saat ini, negosiasi antara perusahaan dan pemerintah Indonesia dengan Abu Sayyaf masih berlangsung.

“Info terakhir yang saya terima dari perusahaan [melalui bagian personalia PT Patria Maritime Line, Bu Mega] menyebutkan kalau kondisi ABK yang disandera dalam kondisi sehat dan aman. Mereka juga tidak mengalami penyiksaan dari kelompok Abu Sayyaf. Yang terpenting saat ini, kami meminta agar menghindari serangan militer. Yang kedua, kalau perusahaan ingin menebus, tolong jangan dihalang-halangi [tim negosiator perusahaan masih menjalankan tugasnya],” kata ayah Bayu Oktavianto, yakni Sutomo, saat ditemui wartawan di rumahnya, Jumat (22/4/2016).

Hal senada dikatakan ibu Bayu Oktavianto, yakni Rahayu. Anggota keluarga Bayu sudah kangen ingin bertemu dengan alumnus SMPN 2 Delanggu itu.

“Pengajian terus dilakukan di rumah sini. Harapan saya, semoga anak saya bisa segera pulang secepatnya dengan selamat,” katanya.

Kepanikan yang dirasakan keluarga Bayu Oktavianto di Delanggu menggugah kepedulian seniman Solo, Bambang Saptono dan praktisi hukum Solo, Kalono untuk menggelar aksi peduli ke kediaman orangtua Bayu Oktavianto. Pada kesempatan itu, Bambang Saptono memberikan bantuan berupa seprangkat alat ibadah dan tali asih ke keluarga Sutomo.

“Saya sebenarnya asli Cawas. Di saat seperti ini, otomatis keluarga sedang limbung. Dengan bantuan alat ibadah itu, semoga keluarga bisa lebih mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Soalnya memang pada kondisi ini, mendekatnya hanya kepada Alloh SWT. Di sini, kami juga mengimbau agar perusahaan bisa aktif lagi,” kata
Bambang Saptono.

Hal yang sama dikatakan praktisi hukum Solo, Kalono. Selaku perwakilan advokat, Kalono siap memberikan bantuan hukum ketika memang dibutuhkan keluarga Bayu Oktavianto.

“Kalau memang pada akhirnya nanti perusahaan siap membayar uang tebusan, kenapa harus berlama-lama,” katanya.

 

LOWONGAN PEKERJAAN
PT.NSC FINANCE, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…