Ilustrasi.dok
Sabtu, 23 April 2016 18:00 WIB Ponco Suseno/JIBI/Solopos Klaten Share :

TRANSPORTASI KLATEN
Awas, Angkudes di Klaten Terancam Habis, Ini Penyebabnya

Transportasi Klaten, angkudes akan habis dalam waktu lima tahun ke depan.

Solopos.com, KLATEN–Jumlah angkutan pedesaan (angkudes) di Kota Bersinar diprediksi akan habis dalam waktu lima tahun ke depan. Hal Itu disebabkan pelayanan angkudes saat ini dinilai kurang memuaskan terhadap penumpang dan semakin merajalelanya jumlah kendaraan pribadi.

Data yang dihimpun Solopos.com, jumlah angkudes dalam satu dekade terakhir terus berkurang, yakni dari 900 kendaraan menjadi 300 kendaraan. Sebagian besar angkudes saat ini usianya sudah tua. Rute angkudes di Klaten, di antaranya Perumahan Griya Prima Klaten Utara-Pasar Klaten, Perumahan Puri Utama Glodokan Klaten Selatan-Pasar Klaten, Wedi-Kota Klaten, Bayat-Kota Klaten, Penggung-Jatinom-Ngupit-Pasar Klaten, dan Kota Klaten-Rowo Jombor.

“Jumlah kendaraan pribadi saat ini terus bertambah setiap tahunnya. Masyarakat desa juga banyak yang memiliki kendaraan pribadi. Makanya, banyak masyarakat yang mulai meninggalkan angkudes. Di sisi lain, pelayanan angkudes saat ini juga kurang maksimal. Dari segi waktu terkadang tidak bisa diandalkan. Misalnya, dalam 15 menit atau 30 menit mestinya ada angkudes yang ngetem di suatu pangkalan. Kenyataannya tidak seperti itu. Usia kendaraan pun juga sudah tua,” kata Sekretaris Dinas perhubungan (Dishub) Klaten, Sudiyarsono, saat ditemui wartawan di kantornya, Jumat (22/4/2016).

Sudiyarsono mengatakan pembangunan pangkalan angkudes di kompleks Terminal Ir. Soekarno Klaten juga mandek. Padahal, pangkalan tersebut diproyeksikan sebagai terminal angkudes untuk menggantikan pangkalan angkudes di Pasar Kota Klaten.

“Di APBD 2016 tidak ada anggaran untuk pembangunan terminal angkudes. Semoga, di APBD Perubahan nanti bisa dianggarkan,” katanya.
Disinggung upaya untuk mencegah angkudes di Klaten agar tetap beroperasi lima tahun ke depan, Sudiyarsono, mengatakan sudah menyiapkan beberapa strategi. Hal itu seperti revitalisasi rute angkudes dengan cara memperpendek jarak tempuh angkudes menjadi rata-rata 20 kilometer.

“Ada yang jarak rutenya sekitar 35 kilometer, seperti Klaten-Cawas yang melalui Wedi. Itu harus diperpendek agar pelayanannya maksimal [warga tidak menunggu lama sebelum menumpang angkudes]. Selain itu, kami sosialisasi ke pemilik angkudes agar meremajakan kendaraannya. Hal ini untuk menarik penumpang juga,” katanya.

Salah satu warga di Ngawen, Muhammad, 38, mengatakan angkudes yang melintas ke Ngawen banyak yang mati. Hal itu, seperti angkudes rute Klaten-RSI-Karanganom dan Klaten-Tempursari (Ngawen)-Kayumas (Jatinom).

“Matinya rute tersebut sudah beberapa tahun lalu. Saat ini, banyak warga yang lebih berminat menggunakan kendaraan pribadi. Apalagi ditopang dengan adanya ponsel yang bisa memudahkan berkomunikasi antarwarga. Daripada menunggu kedatangan angkudes cukup lama, cukup telefon teman atau saudara agar dijemput,” katanya.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…