Peserta Diklat Karakter Siswa dari SMP Negeri 22 Solo berlatih baris-berbaris di Gelanggang Pemuda Bung Karno, Manahan, Solo, Kamis (20/2/2014). Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari tersebut bertujuan memberikan bekal emotional quotient (EQ) dan sopan santun dalam berperilaku. (Ardiansyah Indra Kumala/JIBI/Solopos) ilustrasi (JIBI/dok)
Sabtu, 23 April 2016 19:20 WIB Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

SEKOLAH BANTUL
Bagaimana Cara Menerapkan Pendidikan Karakter?

Sekolah Bantul terus berbenah.

Solopos.com, BANTUL-Saat banyak sekolah berlomba-lomba mengunggulkan kemajuan teknologi di bidang pendidikan, sebuah SD nan asri di Dusun Ngambah, Mulyodadi, Bambanglipuro menggelorakan pendidikan karakter untuk anak didiknya. Bagaimana hasilnya?

Denting suara gamelan mengalun indah, saat memasuki SD Grogol di Dusun Ngambah, Mulyodadi, Bambanglipuro, Jumat (22/4/2016) pagi. Sejumlah anak yang tergabung dalam kelompok Karawitan, lincah memainkan alat musik tradisional Jawa dari salah satu ruangan sekolah. Dua pohon beringin yang rindang menambah sejuk suasana dan pemandangan sekolah yang terletak di dekat hamparan sawah itu.

Di halaman sekolah, puluhan anak-anak mengenakan pakaian olahraga satu persatu berjalan menggunakan alat permainan tradisional egrang.

Permainan egrang dan karawitan hanya sebagian kecil kegiatan ekstrakurikuler yang digelar sekolah ini. “Masih banyak ada musik, hadroh, melukis masih banyak lagi, kami adakan kegiatan sesuai minat anak,” salah seorang guru SD Grogol Rujiyem bercerita saat disambangi, Jumat pagi.

SD Grogol merupakan salah satu sekolah yang lekat dengan pendidikan karakter dan budaya. Sejumlah kegiatan ekstra kurikuler itu diyakini sebagai bentuk pendidikan karakter bagi anak-anak. Jargon budaya itu bukan isapan jempol, beberapa kali sekolah ini melaju ke tingkat nasional berkat prestasinya di bidang pendidikan karakter dan budaya. Tahun lalu, SD Grogol masuk nominasi nasional sebagai sekolah berbudaya mewakili DIY.

Perempuan 53 tahun itu bercerita bagaimana kegiatan seni budaya tradisional seperti permainan egrang membentuk karakter siswa. “Permainan seperti ini sarat nilai budaya. Sesama teman dapat saling membantu mengajari dan bersosialisasi. Bekerjasama,” tutur perempuan yang sudah mengajar di SD Grogol sejak 2002 itu.

Nilai lebih lainnya, permainan ini melatih fisik siswa agar selalu bergerak, karenanya menjadi salah satu kegiatan olahraga di SD Grogol. Anak-anak masa kini yang kerap terkungkung dengan permainan modern seperti game di gadget kebanyakan menghilangkan kebiasaan bergerak dan olah tubuh.

Pendidikan karakter tidak hanya diwujudkan dengan berbagai kegiatan ekstra kurikuler. Guru-guru di SD Grogol terbiasa menerapkan metode pembelajaran dengan cara bercerita. “Kalau guru itu senang bercerita anak-anak pasti suka. Biasanya guru akan bercerita kenapa anak-anak tidak boleh melakukan ini itu, harus dijelaskan,” tutur dia.

Bagi SD Grogol, pendidikan karakter amat vital bagi anak. Nilai-nilai tersebut akan membentuk pribadinya hingga dewasa. Seperti sikap saling menghargai, bekerjasama serta berintegritas.

Sarat dengan pendidikan karakter bukan berarti melupakan kemajuan teknologi dan pendidikan modern. Sekolah menyediakan perangkat teknologi seperti komputer untuk diakses oleh anak. Kecerdasan intelektual menurut Rujiyem tak kalah penting dengan kecerdasan emosional anak.

“Ternyata memadukan pendidikan modern dengan budaya tradisional itu menyenangkan. Anak-anak justru asyik dan menikmati,” lanjutnya lagi. Dari sisi prestasi akademik tidak jarang SD Grogol menggondol prestasi. Tahun lalu peringkat pertama Ujian Nasional di Bambanglipuro, diraih sekolah ini. Salah seorang siswa dari pedalaman desa di Bantul itu bahkan mampu melaju ke tingkat ASEAN dalam olimpiade mipa.

lowongan pekerjaan
CV MUTIARA BERLIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…