Manajer Iklan PT Aksara Dinamika Jogja Sri Pujiningsih (paling kiri), Pemimpin Redaksi Harian Jogja Anton Wahyu Prihartono (dua kiri), dan Wakil Pemimpin Perusahaan PT Aksara Dinamika Jogja Lahyanto Nadie (paling kanan) ketika bertemu dengan Komisaris Utama PT Mega Andalan Kalasan (MAK) Buntoro (dua kanan) di PT MAK, Sleman, Rabu (17/2/2016). (Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja) Manajer Iklan PT Aksara Dinamika Jogja Sri Pujiningsih (paling kiri), Pemimpin Redaksi Harian Jogja Anton Wahyu Prihartono (dua kiri), dan Wakil Pemimpin Perusahaan PT Aksara Dinamika Jogja Lahyanto Nadie (paling kanan) ketika bertemu dengan Komisaris Utama PT Mega Andalan Kalasan (MAK) Buntoro (dua kanan) di PT MAK, Sleman, Rabu (17/2/2016). (Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja)
Sabtu, 23 April 2016 15:20 WIB Abdul Hamied Razak/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

PT MAK Kuasai 60% Pasar Nasional

PT MAK tahun depan akan ekspor.

Solopos.com, SLEMAN– PT Mega Andalan Kalasan (MAK) klaim menguasai 60% penjualan alat-alat kesehatan (Alkes) untuk pasar nasional. Tahun depan, MAK berencana melakukan ekspor produknya ke Amerika Serikat.

Presiden Direktur MAK Buntoro mengatakan, saat ini pihaknya berupaya keras untuk mampu melakukan ekspor Alkes ke USA. Alasannya, di negara tersebut kebutuhan Alkes sangat besar. Jika ke ekspor ke Jepang rata-rata per minggu empat kontainer berukuran 40 feet, Buntoro memperkirakan bisa mencapai 10 kontainer bahkan bisa lebih.

“Yang jelas kami upayakan (ekspor ke Amerika) itu terjadi tahun depan. Sebab tantangannya berat. Persyaratan yang harus dipenuhi cukup banyak,” katanya kepada Harianjogja.com, Kamis (21/4/2016).

Menurutnya, persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa menembus pasar di Amerika tidak hanya masalah administrasi saja. Tetapi juga persyaratan dan kemampuan kapasitas produksinya. Sayang dia enggan menyebut nilai ekspor yang akan dilakukan ke USA. Namun dia memastikan, produk Alkes MAK yang diekspor awal adalah tempat tidur.

Menurut Buntoro, MAK saat ini mampu menguasai 60% pasar domestik (nasional) untuk kebutuhan Alkes. Bahkan, kata dia, MAK termasuk 10 perusahaan besar di dunia dengan kapasitas produksi yang besar.

“Sebenarnya kami mampu 100% memenuhi kebutuhan Alkes di Indonesia. Cuma kan selama masih ada KKN barang import kan masih bisa masuk,” katanya.

Hingga kini, MAK mampu memasok produk Alkesnya hingga lebih dari 30 negara. MAK juga tidak takut bersaing dengan produk impor. Selain kualitas bagus, harga yang ditawarkan cukup kompetitif.

Menurutnya, produsen Alkes dalam negeri jumlahnya cukup banyak, sekitar seratusan unit. Statusnya perusahannya didominasi perusahaan kecil yang sudah sekarat. Pasalnya, mereka banyak yang belum dapat bersaing di pasaran. Salah satu kendalanya adalah pemanfaatan e-catalog yang dilakukan pemerintah untuk pembelian produk Alkes.

“Dengan e-catalog semua bisa mengakses. Dibutuhkan distributor di semua daerah. Kalau perusahaan kecil kan tidak banyak yang memiliki distributor di setiap daerah,” ujarnya.

Kondisi tersebut, lanjut Buntoro, menyebabkan banyak perusahaan Alkes yang sekarat. Kondisi itu, ujarnya, dimanfaatkan oleh produsen dari China dan sebagainya untuk masuk.

“MAK sendiri punya distributor di seluruh Indonesia. Bisa saja menguasai, tetapi kan namanya manusia, bisa dirayu sehingga produksi impor masuk,” tandasnya.

Padahal, lanjut dia, jika konsumen atau rumah sakit-rumah sakit di Indonesia bisa menggunakan produk dalam negeri maka harganya bisa lebih murah. Kesadaran itu harusnya dimiliki oleh Indonesia terutama kalangan pemerintahan. Sebab, pengusaha dalam negeri sudah membayar pajak sehingga wajar jika pajak yang diperoleh dikembalikan ke pengusaha Indonesia.

“Kan lucu kalau pajak yang diperoleh pemerintah dari pengusaha, kemudian membeli Alkesnya dari barang impor. Kalau seperti itu, perekonomiannya tidak berjalan baik,” katanya.

Sayangnya, bahan bakunya (baja) sangat mahal. Pemerintah diharapkan mampu mencari solusi persoalan tersebut.

“Pengusaha dalam negeri lebih mahal membeli bahan bakunya. Selain itu, tidak ada bea masuk bagi produk Alkes dari luar. Tapi kami nilai ini bagus agar produsen dalam negeri dapat kompetitif dan terus meningkatkan kualitasnya,” katanya.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…