Parade Gejog Lesung dengan kolaborasi kelompok penyanyi yang tampil memeriahkan pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) di Kulonprogo, Jumat (29/8/2014) di Alun-alun Wates. (JIBI/Harian Jogja/Holy Kartika N.S) Parade Gejog Lesung dengan kolaborasi kelompok penyanyi yang tampil memeriahkan pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) di Kulonprogo, Jumat (29/8/2014) di Alun-alun Wates. (JIBI/Harian Jogja/Holy Kartika N.S)
Sabtu, 23 April 2016 12:20 WIB Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

PENGGUNAAN DANAIS
Anggaran Pertunjukan Seni Budaya Dipangkas Hingga 40%

Penggunaan danais untuk kesenian di Kulonprogo berkurang.

Solopos.com, KULONPROGO-Alokasi dana keistimewaan (danais) Kulonprogo tahun ini turun sekitar 40 persen dibanding 2015 lalu. Efektivitas dan efisiensi penggunaan dana yang terbatas menjadi fokus Pemkab Kulonprogo meski diantaranya harus pemangkasan intensitas pertunjukan seni budaya.

Tahun lalu, alokasi danais Kulonprogo mencapai Rp21,425 miliar. Namun, tahun ini angka turun signifikan menjadi hanya sekitar Rp12,8 miliar. Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Kulonprogo, Untung Waluyo mengatakan, dana tersebut adalah hasil yang diusahakan Pemkab Kulonprogo saat bidang kebudayaan masih menjadi bagian Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga. Menurutnya, penurunan jumlah danais bisa saja karena Pemda DIY punya prioritas percepatan pembangunan di bidang lain.

“Berapapun nilainya akan dimanfaatkan dengan sebaiknya,” ungkap Untung, Jumat (22/4/2016).

Kelanjutan pembangunan Gedung Taman Budaya akan diprioritaskan. Danais yang dialosikan mencapai Rp5 miliar. Namun, anggaran tersebut bukan ditujukan untuk meneruskan pembangun fisik, melainkan penataan interior gedung utama, seperti pengisian perabot dan aksesoris pendukung. Dengan demikian bangunan itu diharapkan bisa segera difungsikan untuk berbagai kegiatan kebudayaan maupun kesenian.

Disbud Kulonprogo juga mengalokasikan sekitar Rp1 miliar untuk penguatan konstruksi Jembatan Duwet di Kecamatan Kalibawang. Cagar budaya yang kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah itu sebelumnya telah direhabilitasi dengan danais sebesar Rp2,3 miliar pada 2015 lalu.

Untung lalu menyatakan alokasi untuk kegiatan penguatan nilai tradisi dan misi kebudayaan memang otomatis ikut berkurang, termasuk untuk bantuan kepada kelompok seni lokal. Menurutnya, dana terbatas harus bisa dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Kelompok seni yang ada di Kulonprogo juga perlu dievaluasi lebih lanjut, baik bentuk kegiatan maupun wujud eksistensi lainnya. “Jangan sampai ada kelompok dadakan yang ujung-ujungnya hanya demi cari bantuan. Kita tidak ingin kebudayaan dimanfaatkan untuk kepentingan yang kurang bertanggungjawab,” kata Untung.

Sekretaris Disbud Kulonprogo, Joko Mursito menambahkan, berkurangnya danais memang mau tidak mau mengurangi intensitas pertunjukan seni budaya. Salah satunya sendratari Sugriwa Subali tahun ini hanya digelar tiga kali, lebih sedikit dibanding 2015 kemarin yang mencapai sembilan kali. Hal itu karena alokasi dananya pun berkurang dari Rp700 juta menjadi cuma Rp150 juta.

Meski demikian, Joko menjamin sendratari yang diadakan di kawasan Gua Kiskendo, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo itu tidak akan berkurang kualitasnya. “Kami tetap berusaha menjaga bahkan meningkatkan kualitas,” ujar Joko.

lowongan pekerjaan
PT.ARUTAMA BUMI STILINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…