Ilustrasi (JIBI/Harian Jogja/Dok) Ilustrasi (JIBI/Harian Jogja/Dok)
Sabtu, 23 April 2016 13:15 WIB Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos Sragen Share :

PENEMUAN BENDA PURBAKALA
Setelah 80 Tahun, Homo Erectus Arkaik Ditemukan Kembali

Penemuan benda purbakala berupa fosil homo erectus arkaik oleh petani di Sragen.

Solopos.com, SRAGEN – Seorang petani asal Dusun Mbojong, RT 011, Desa Manyarejo, Plupuh, Sragen, bernama Setu alias Wiryorejo, 56, menemukan sebuah fosil di dasar kali pada Februari lalu. Siapa sangka, temuan fosil tengkorak manusia purba itu cukup fenomenal di kalangan ahli paleontologi.

Fosil itu dipastikan sebagai Homo erectus paleojavanicus jenis arkaik yang cukup langka itu. Manusia Jawa tertua ini diperkirakan hidup pada 1,5 juta hingga 1 juta tahun sebelum masehi. Kali terakhir, fosil manusia Jawa tertua itu ditemukan seorang ahli paleontologi asal Berlin, Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, di kawasan Ngebung, Sangiran, pada 1936 silam.

”Ceritanya, saat itu saya pulang dari sawah. Fosil itu terjepit di antara tiga batu cadas. Saya lalu mencongkelnya dengan bantuan linggis. Saat itu ya kira itu adalah fosil lutut gajah purba. Ternyata itu fosil tengkorak manusia purba. Saya tahunya setelah fosil itu diteliti oleh ahlinya,” kata Setu saat ditemui solopos.com di rumahnya, Jumat (22/4/2016).

Setelah diserahkan kepada Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, temuan fosil Homo erectus berjenis arkaik itu menjadi bahan penelitian ahli paleontropologi Dr Harry Widianto. Hasil penelitian itu baru dipublikasikan baru-baru ini. Fosil tempurung kepala Homo erectus jenis arkaik itu tersimpan di sebuah brangkas khusus yang terjaga temperatur atau suhu udaranya di BPSMP Sangiran.

“Ini adalah temuan yang sangat langka. Kami memiliki sekitar 100 fosil manusia purba. Namun, sebagian besar itu Homo erectus jenik tipik yang hidup pada era 800.000 hingga 300.000 tahun sebelum masehi. Untuk Homo erectus jenis arkaik, kami hanya memiliki dua macam yakni yang ditemukan pada 1936 dan 2016. Jarak dua temuan itu mencapai 80 tahun,” jelas Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi saat ditemui di kantornya.

Homo erectus jenis arkaik itu memiliki ciri-ciri bentuk tengkorak yang pendek, namun memanjang ke belakang. Volume otaknya hanya seukuran 800 cc. Volume otak ini jauh lebih kecil ketimbang otak manusia modern yakni 1.200-1.400 cc dan sedikit lebih besar daripada volume otak kera yakni 600 cc.

“Ukuran volume otak menentukan tingkat kecerdasan. Karena volume otaknya terbilang kecil, Homo erectus arkaik hanya meninggalkan benda-benda dari batu sebagai warisan kebudayaan pada zamannya. Mereka belum memiliki bahasa verbal. Untuk berkomunikasi dengan sesama mereka ya masih menggunakan bahasa isyarat,” papar Sukronedi.

Sukronedi menyebut temuan fosil tengkorak Homo erectus arkaik menyumbangkan informasi dan pengetahuan baru di dalam khasanah ilmu arkeologi. Temuan fosil Homo erectur arkaik itu memperkaya temuan fosil yang sebagian besar masih didominasi jenis hewan atau tumbuhan purba.

“Kebetulan di Sangiran itu selama ini hanya ditemukan dua jenis Homo erectus yakni arkaik dan tipik. Untuk jenis progresif ditemukan di Sambungmacan dan Ngandong Blora. Adanya perubahan iklim yang ekstrim dari hutan hujan tropis yang subur menjadi stepa yang kering kerontang membuat mereka bermigrasi dari Sangiran menuju daerah di pinggiran Sungai Bengawan Solo seperti Sambungmacan dan Ngandong,” terang Sukronedi.

 

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Solusi Kemanusiaan untuk Jerusalem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/12/2017). Esai ini karya Mudhofir Abdullah, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah mudhofir1527@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pernyataan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel yang…