Fotografer Presiden, Agus Suparto, sedang menjelaskan karya-karyanya di hadapan peserta Diskusi Fotografi di Lantai II, Pasar Kembang, Solo,Selasa (19/4/2016). (Hanifah Kusumastuti/JIBI/Solopos)
Sabtu, 23 April 2016 19:00 WIB Hanifah Kusumastuti/JIBI/Solopos Solo Share :

KISAH INSPIRATIF
Berdebat dengan Tim Komunikasi, Cari Info Bak Intelijen, Ini Kisah Fotografer Presiden

Kisah inspiratif tentang sepak terjang Agus Suparto, fotografer presiden Jokowi.

Solopos.com, SOLO – Pagi-pagi buta pintu kamar hotel Agus Suparto digedor-gedor seorang lelaki bertubuh tegap. Padahal kantuk masih menguasai Agus. Sebab malam harinya ia mengikuti sebuah acara hingga larut malam.

Agus bahkan baru bisa tidur sekitar pukul 03.00 WIT setelah selesai mengisi bateri-baterai kameranya. Namun suara ketukan pintu waktu Subuh itu memaksanya membuka mata lebar-lebar.

“Dipanggil Pak Presiden,” ujar pria yang mengetuk pintu kamar hotel tempat Agus menginap.

Hanya dengan mengenakan pakaian seadanya, Agus mencuci muka kemudian mengikuti pria yang ternyata ajudan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut. Tak perlu basa-basi, Agus kemudian memotret Jokowi yang saat itu sedang duduk menikmati matahari terbit di dermaga Pantai Waiwo Raja Ampat, Papua Barat, Jumat (1/1/2016).

Lulusan Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut mengambil sekitar empat jepretan. Begitu diunggah ke media sosial, foto Agus yang menunjukkan orang nomor satu di Indonesia sedang mengenakan sarung dan duduk bersila dengan latar belakang sun rise berwarna kuning kemerah-merahan di Raja Ampat tersebut langsung menjadi viral.

“Pak Presiden sendiri yang meminta. Dia bilang yang ini saja, ini lebih artistik. Presiden memilih yang mataharinya di sebelah kiri, nuansa agak redup. Artistik itu kata-kata dari Presiden sendiri,” ungkap Agus ketika menceritakan pengalamannya memotret Jokowi di Raja Ampat kepada peserta Diskusi Fotografi di Lantai II Pasar Kembang (Sarkem) Solo, Selasa (19/4/2016) malam.

Sebagai salah satu fotografer presiden, Agus harus selalu siap mengangkat kamera ketika orang nomor satu itu meminta difoto. Memang tak jarang Jokowi sendiri yang meminta Agus untuk memfotonya. Namun pada saat tertentu, Agus sendiri yang harus jeli menemukan momentum tepat untuk mengabadikan kegiataan Presiden dalam jepretan kameranya.

Oleh karena itu, Agus yang menyebut dirinya pekerja suka rela tersebut, harus mencari informasi mengenai kegiatan-kegiatan Presiden. Mulai dari kegiatan serius, hingga yang terkesan remeh-temeh. Seperti ketika dirinya memotret Jokowi sedang melepas sekitar 150 kodok di Istana Kepresidenan, Bogor, awal Januari lalu.

“Begitu mendengar bocoran itu, saya langsung berangkat ke Bogor sekitar pukul 09.00 WIB. Kenapa kodok? Alasannya sederhana sebenarnya. Waktu di rumahnya di Sumber [rumah Jokowi di Solo], sekitar rumah Presiden pernah ada sawah-sawah dan ada suara-suara kodok. Jadi Pak Presiden ingin merasakan [Istana Kepresidenan] seperti suasana rumah” kata Agus.

Agus sempat berdebat dengan Tim Komunikasi Kepresidenan setelah ia merilis foto Presiden yang sedang melepas kodok-kodok tersebut. “Waktu itu Tim Komunikasi bilang, kenapa itu dilepas? Mereka tanya ke saya. Seperti mereka khawatir kalau tidak bisa menjinakkan hatters karena itu [foto Presiden melepas kodok]. Tapi karena Presiden mau ya bagi saya tidak masalah,” jelas dia.

Terkadang Agus merilis foto-fotonya setelah meminta izin dari sang model yang tidak lain adalah Jokowi. Namun, ia juga beberapa kali tidak perlu meminta izin dari mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta itu.

Selama menjadi fotografer Presiden, Agus harus mencari informasi sedetail-detailnya tentang kegiatan Jokowi. “Ya, jadi sudah kayak intelijen,” ujarnya sambil terkekeh.

Kepada peserta Diskusi Fotografi di Sarkem, Agus menceritakan suka duka menjadi fotografer Presiden. Ia biasa mengikut jadwal padat Presiden dengan berkeliling ke berbagai belahan dunia. Namun terkadang ia mengambil istirahat.

“Seperti malam ini, seharusnya saya di London, tapi malah di Sarkem,” ujarnya diikuti gelak tawa peserta Disikusi Fotografi.

Meski menjadi fotografer Presiden, Agus tetap harus mengikuti protokoler Istana Kepresidenan yang ketat. Ia juga mengikuti aturan untuk bisa menembus Pasukan Pengamanan Presiden (Paspamres). “Untuk bisa memotret, saya harus tahu mindset Presiden, apa yang sedang dipikirkan Presiden saat itu, jadi kita bisa ambil momentum,” ujarnya.

Bagi Agus, karya-karyanya itu bisa menjadi sejarah. “Pokoknya suka rela saja, terus berkarya,” lanjutnya.

Seorang fotografer asal Klaten yang mengikuti Diskusi Fotografi di Sarkem, Sugiarto, mengaku rela terbang lebih awal dari tugasnya di Surabaya ke Solo demi bertemu dengan Agus Suparto.

“Saya kan sering lihat foto-fotonya di media. Jadi penasaran. Tadi langsung terbang dari Surabaya,” ungkapnya.

Bon Hidayat, perwakilan komunitas Fotografi Event Solo sebagai penyelenggara acara ini, mengatakan kehadiran Agus Suparto ke Sarkem melanjutkan rencana diskusi yang batal Mei lalu.

“Bulan lalu kan Pak Presiden ada di sini [Solo], tapi waktu itu mas Agus tidak bisa karena malamnya harus pergi. Jadilah malam ini,” ungkapnya.

 

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…