Pedagang menakar minyak curah di Pasar Legi, Rabu (1/7). Sejumlah harga kebutuhan pokok perlahan naik menjelang Lebaran. (Shoqib Angriawan/JIBI/Solopos) Foto ilustrasi (Shoqib Angriawan/JIBI/Solopos)
Sabtu, 23 April 2016 08:40 WIB Mayang Nova Lestari/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Harga Kebutuhan Pokok Turun, Tetap Tak Pengaruhi Pasar

Harga kebutuhan pokok di Pasar Tradisional Argosari, Wonosari, mengalami penurunan dibandingkan harga saat akhir bulan lalu

 

 

Solopos.com, WONOSARI-Harga kebutuhan pokok di Pasar Tradisional Argosari, Wonosari, mengalami penurunan dibandingkan harga saat akhir bulan lalu. Namun hal tersebut tak terlalu memengaruhi pergerakan pasar.

Harga kebutuhan pokok yang bergerak turun antara lain Cabai rawit merah dari Rp50.000 per kilogram menjadi Rp20 ribu, bawang putih dari Rp34.000 per kilogram menjadi Rp30.000, Sayur Buncis dari Rp12.000 per kilogram menjadi Rp10 ribu per kilogram. Selain itu cabai merah besar saat ini berada pada angka Rp18.000, cabai hijau besar di harga Rp14.000,

Seorang pedagang di Pasar Arosari, Agus Deni mengungkapkan penurunan juga terjadi di beberapa komoditas sayuran. Setelah pada beberapa saat yang lalu harga sayur mengalami lonjakan yang cukup tinggi.

“Terjadi penurunan tapi tidak semua bahan. Sehingga tidak terlalu mempengaruhi pasar,” kata dia, Jumat (22/4/2016).

Ia mengaku harga beberapa bahan pokok di p[asar Argosari masih stabil seperti beberapa saat yang lalu. Pembeli pun diakuinya masih stabil, artinya belum terjadi lonjakan masyarakat yang berbelanja. Namun apabila dibandingkan dengan bulan lalu, saat ini sedikit demi sedikit pembeli sudah mulai ramai kembali. Menurutnya, saat ini masyarakat banyak yang mengadakan acara hajatan, sehingga tingkat konsumsi atau keinginan untuk berbelanja mulai merangkak naik.

Untuk menghadapi mulai ramainya pembeli, ia masih akan mengambil stok barang dagangan dari luar daerah, seperti biasa, yakni daerah Prambanan hingga Boyolali.
Ia tak menampik bahwa sampai saat ini Gunungkidul belum dapat memproduksi sendiri sayuran segar. Hal tersebut memaksa dirinya harus mengambil kulakan di luar daerah.

“Kalau masalah kulakan dagangan, Gunungkidul selamanya masih ambil dari luar,” kata dia.

Sementara itu salah seorang pembeli asal Wonosari, Nanang, mengatakan tak terlalu mempermasalahkan harga-harga pasar saat ini. Menurutnya harga kebutuhan pokok saat ini masih berfluktuasi. Hanya saja di saat-saat tertentu harga kebutuhan pokok dapat melejit tinggi, sehingga membuatnya menahan diri untuk berbelanja dalam jumlah banyak. Ia justru mengkhawatirkan harga barang pokok beberapa bulan ke depan yang akan mengalami kenaikan.

“Menjelang puasa dan lebaran harganya pasti banyak yang naik, Mudah-mudahan melonjaknya tidak terlalu tinggi,” kata dia.

lowongan pekerjaan
PT.ARUTAMA BUMI STILINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…