Ilustrasi harimau sumatra (Taman Safari Indonesia) Ilustrasi harimau sumatra (Taman Safari Indonesia)
Sabtu, 23 April 2016 12:45 WIB JIBI/Solopos/Antara Layar Share :

FESTIVAL FILM
Film Dokumenter "Sumatran Last Tiger" Raih Medali Perak Festival Film New York

Festival Film New York 2016 diikuti film dokumenter berjudul Sumatran Last Tiger.

Solopos.com, JAKARTA – Film dokumenter Sumatran Last Tiger yang menceritakan upaya konservasi harimau sumatera di kawasan konservasi Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) Pesisir Barat, Lampung, meraih medali perak dalam Festival Film New York 2016.

Menurut keterangan tertulis Artha Graha Peduli yang diterima di Jakarta, Sabtu (23/4/2016), film bertema alam dan satwa liar di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan ini mengalahkan ratusan film dokumenter lainnya. Film “Sumatran Last Tiger” tersebut diproduksi Channel News Asia, Mediacorp pte Ltd, Singapura.

Sementara, menurut pengumuman di laman Festival Film New York, Jumat (22/4/2016), medali emas diraih film “Vanishing King: Lion of Namib” yang menceritakan tentang terancam punahnya satwa liar Singa di Namibia, Afrika. Film ini diproduksi oleh Interspot film GmBh, Austria.

Dalam film “Sumatran Last Tiger” dikisahkan bagaimana harimau sumatera yang pernah berkonflik dengan manusia itu direhabilitasi dan kemudian dilepasliarkan kembali ke alam bebas. Pusat rehabilitasi harimau itu berlangsung di TWNC yang dikelola Yayasan Artha Graha Peduli.

Di film itu diceritakan dua ekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) telah berhasil dilepasliarkan setelah menjalani masa rehabilitasi. Pelepasliaran dua harimau sumatera yang bernama Panti dan Petir disaksikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Pelepasliaran dilakukan di dalam area konservasi alam seluas kurang lebih 50.000 hektare di TNBBS. Panti dan Petir merupakan bagian dari sembilan harimau sumatera yang direhabilitasi di area Tiger Rescue Center TWNC yang dilepasliarkan satu persatu.

Di seluruh Sumatera kini tinggal sekitar 500 ekor, namun mereka dalam keadaan terdesak, karena rusaknya kawasan hutan di seluruh Sumatera. Banyak harimau sumatera di Aceh, misalnya, yang masuk ke kampung untuk mencari makan dan hal itu mengakibatkan konflik di antara dua jenis makhluk Tuhan itu.

Pada 2014, lembaga konservasi dunia untuk perlindungan spesies kucing besar (Panthera) telah memberi penghargaan kepada Artha Graha Peduli dan pejabat serta eks pejabat pemerintah Indonesia terkait perlindungan harimau saat rapat tahunan “Tigers Forever” di Jakarta pada 16 Juli 2014. Panthera memberikan penghargaan atas kesuksesan besar dalam upaya penyelematan harimau liar di berbagai negara, terutama di TWNC, Indonesia.

lowongan pekerjaan
PT.SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Bahasa Tubuh dan Bahasa Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (19/10/2017). Esai ini karya Triyono Lukmantoro, dosen Sosiologi Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro Semarang dan mahasiswa Program Doktor Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail…