Petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng membersihkan struktur batu bata kuno yang diperkirakan merupakan candi di Dukuh Gunung Wijil, Desa Giriroto, Ngemplak, Boyolali, Selasa (5/4/2016). (Muhammad Ismail/JIBI/Solopos)
Sabtu, 23 April 2016 05:25 WIB Muhammad Ismail/JIBI/Solopos Boyolali Share :

BENDA BERSEJARAH BOYOLALI
Batu Palungguhan Dewa Siwa Abad IX Ditemukan di Giriroto

Benda bersejarah Boyolali berupa batu palungguhan Dewa Siwa Abad iX ditemukan di Giriroto.

Solopos.com, BOYOLALI – Benda bersejarah kembali ditemukan di Situs Gunung Wijil, Desa Giriroto, Ngemplak, Boyolali, Rabu (13/4/2016). Benda bersejarah yang ditemukan tersebut berupa batu pelinggih atau palungguhan Dewa Siwa peninggalan abad ke IX pada zaman Hindu. Jumlah total benda bersejarah yang telah ditemukan di Situs Gunung Wijil sebanyak enam buah yakni tiga arca, dua bangunan candi, dan satu batu pelinggih.

Seorang warga penemu batu pelinggih, Saleman, mengatakan benda itu ditemukan saat sedang mengumpulkan batu bata kuno yang berserakan di sawah miliknya. Batu itu awalnya dikira batu biasa tetapi setelah diamati ternyata bentuknya unik.

“Saya menemukan batu itu di sebelah sisi barat bangunan candi pendamping di kedalaman sekitar 20 sentimeter,” ujar Saleman saat ditemui solopos.com di sawah, Kamis (21/4/2016).

Saleman mengatakan berat batu tersebut 2 kilo gram (kg), panjang sekitar 20 sentimeter, dan tingginya 10 sentimeter. Batu tersebut kemudian di angkat dari tanah dan langsung disimpan di kantor desa.

“Batu itu sekarang di bawa oleh BPCB [Balai Pelestarian Cagar Budaya] Jateng dua hari kemudian setelah ditemukan,” kata dia.

Ia mengatakan kondisi di sekitar candi induk dan candi pendamping sudah rapi dibandingkan ketika masih ada aktivitas ekskavasi oleh BPCB. Warga pada akhir pekan lalu mengelar kerja bakti mengumpulkan batu bata kuno dan tanah yang berserakan untuk ditata di sekitar candi.

“Pengunjung yang datang ke Situs Gunung Wijil sekarang lebih nyaman setelah dilakukan penataan di lokasi kedua candi,” kata dia.

Sementara itu, Staff Perlindungan dan Penyelamatan, BPCB Jateng, Muhammad Junawan, mengatakan batu yang ditemukan warga pada Rabu pekan lalu merupakan batu pelinggih Dewa Siwa peninggalan abad ke IX zaman Hindu. Batu tersebut berukuran 18 sentimeter x 18 sentimeter.

“Batu pelinggih tersebut masih dalam satu rangkaian pelengkap sebuah bangunan candi yang berfungsi sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa,” kata dia.

Ia menjelaskan batu pelinggih itu digunakan Dewa Siwa sebagai tempat duduk. Kondisi batu tersebut bentuknya masih utuh meskipun sudah terpendam di dalam tanah puluhan tahun. Ia memperkirakan di dua lokasi banguan candi masih bayak benda bersejarah lainnya.

Junawan yang sekaligus sebagai ketua ekskavasi Situs Gunung Wijil ini mengatakan empat benda bersejarah berupa tiga candi dan batu pelinggih saat ini dipinjam oleh pemerintah desa (Pemdes) Giriroto.

“Pemdes Giriroto berencana menjadikan benda itu untuk wisata sejarah. Kami tidak mempermasalahkan rencana itu asalkan benda itu dirawat dan tidak sampai hilang,” kata dia.

Ditanya soal kelanjutan ekskavasi, dia mengaku belum ada keputusan dari BPCB pusat. BPCB Jateng, kata dia, sudah mengirimkan berita acara dan hasil temuan di Situs Gunung Wijil ke pusat tetapi sampai saat ini belum ada kabar ekskavasi lanjutan.

 

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…