Buah anggur (liputan6.com)
Jumat, 22 April 2016 04:40 WIB Bernadheta Dian/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

PERTANIAN DAN PERKEBUNAN
Petani Buah Fokus Pembudidayaan

Selain pembudidayaan, petani juga masih memiliki tanggungan untuk pemasaran.

 

 

Solopos.com, SLEMAN-Petani buah lokal selama ini masih merangkap tugas. Selain pembudidayaan, petani juga masih memiliki tanggungan untuk pemasaran.

Kepala Bidang Pemasaran Asosiasi Petani Salak Sleman Prima Sembada Muhammad Iskandar menyampaikan, realita yang terjadi saat ini tidak sedikit petani yang turut ambil pusing memikirkan pemasarannya. Idealnya, kata dia, antara bidang budidaya dengan manajemen pemasaran produk terpisah.

“Selama ini petani banyak merangkap-rangkap. Sudah saatnya pemerintah menyiapkan generasi muda untuk terjun di bidang manajemen pemasaan buah,” kata Iskandar saat dihubungi Harian Jogja, Kamis (21/4/2016).

Menurutnya saat manajemen pemasaran dipegang petani, masih ada bagian vital yang belum dapat mereka kuasai, yakni penguasaan internet. Iskandar mengakui, petani salak dan buah lokal lainnya merasa kesulitan untuk mengoperasikan internet. Oleh karena itu jika anak muda yang memiliki bakat di bidang informasi dan teknologi diberdayakan, bisa memacu perkembangan usaha penjualan buah lokal.

Iskandar mengatakan, prospek bisnis buah lokal cukup menjanjikan. Ukurannya dapat dilihat dari semakin banyaknya serapan supermarket terhadap buah lokal. Saat ini buah salak, pisang, manggis, jambu air, jambu jamaika, dan alpukat yang merupakan panenan lokal banyak dijual di supermarket.

Ia menyontohkan, harga salak di petani dijual Rp12.000 per kg tetapi sampai di supermarket Jakarta bisa naik hingga Rp17.000. Artinya, kata dia, harga jual buah lokal terutama asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) cukup tinggi. Hal ini masih dapat dikembangkan lagi dari sisi pembudidayaan hingga packaging (pengemasan).

Untuk mengembangkan buah lokal, Iskandar melihat pentingnya peran pemerintah dalam menyadarkan masyarakat bahwa buah lokal lebih sehat dibanding buah impor. “Kalau membendung [buah] dari luar negeri itu memang sulit. Yang bisa dilakukan ya menciptakan citra buah lokal lebih segar dan sehat. Dengan sendirinya nanti konsumsi impor akan terminimalisir,” ungkapnya. Menurutnya sosialisasi buah lokal tersebut akan sangat membantu wacana pemerintah dalam mengembangkan buah nasional.

Seperti dilansir di detik, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah memberikan sinyal dukungan untuk pengembangan buah nasional. Hal ini disampaikan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus Komisaris PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII), Herry Suhardiyanto.

“Bapak Presiden sudah memberikan sinyal untuk pengembangan buah nasional, diharapkan masyarakat juga bisa merasakan hasil dan tambahan Pendapatan nantinya. Hanya ingin saya titipkan untuk perdagangan internasional tolong diberikan proteksi untuk jaminan mutu dan kualitasnya,” kata Herry. Bernadheta Dian Saraswati

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…