Meme peringatan Hari Kartini (Twitter/@dwiazalia3) Meme peringatan Hari Kartini (Twitter/@dwiazalia3)
Jumat, 22 April 2016 12:40 WIB Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

PERINGATAN HARI KARTINI
Perempuan Berkebaya Populerkan Kebaya Lewat Edukasi

Perempuan Berkebaya bersama Nanamia Pizzeria menggelar Talkshow Peran Wanita dalam Pelestarian Budaya Bangsa.

 

 

Solopos.com, JOGJA – Perempuan Berkebaya bersama Nanamia Pizzeria menggelar Talkshow Peran Wanita dalam Pelestarian Budaya Bangsa. Acara tersebut digelar memeriahkan peringatan Hari Kartini, Kamis (21/4).

Sosok Kartini yang hingga saat ini terus menginspirasi perempuan-perempuan Indonesia masih terus dikenang akan jasanya dalam mengangkat derajat perempuan. Di masa kini, wanita tampil menjadi sosok penting di tengah kehidupan masyarakat dan di berbagai bidang.

“Lewat talkshow ini, diharapkan para wanita dapat terus termotivasi untuk berkarya dan berjuang dalam melestarikan budaya bangsa,” ujar Marketing Staff Nanamia Pizzeria Ika Indriyati.

Fitri Pusponagoro, salah satu narasumber dalam talkshow Hari Kartini yang digelar di Nanamia Pizzeria Tirtodipuran mengatakan, kebaya merupakan busana nasional bagi perempuan Indonesia. Dia mengungkapkan, sudah sejatinya busana ini terus dijaga dan dilestarikan, sebagai salah satu warisan budaya bangsa ini.

“Kebaya itu merupakan salah satu busana nasional bagi para perempuan Indonesia. Kami melalui komunitas Perempuan Kebaya ini berusaha mempopulerkan kembali kebaya,” ujar Fitri.

Lebih lanjut Fitri mengatakan, bukan hanya kebaya tetapi juga batik juga merupakan bagian dari busana nasional. Berbicara tentang kebaya juga tidak terlepas dari ngadi busana dan ngadi salira.

“Ungkapan itu adalah ajaran nenek moyang yang menganjurkan agar para wanita dapat selalu menjunjung tinggi konsep keselarasan. Ngadi salira berarti kecantikan diri, ngadi busana adalah penampilan dalam hal ini tata busana,” ungkap Fitri.

Acara ini juga turut dimeriahkan dengan tutorial pemakaian kebaya dalam aktivitas sehari-hari. Salah satu penggiat fashion kebaya Jogja, Lila Imelda Sari mengatakan, selama ini kebaya masih saja dianggap sebagai busana yang kuno dan berkesan tua. Sehingga membuat anak muda enggan mengaplikasikan kebaya sebagai salah satu busana yang dapat dikenakan sehari-hari.

“Saya sendiri mendesain busana kebaya dan kain-kain tradisional dengan lebih simple. Harapan saya, kebaya dan kain tradisional tidak lagi dianggap kuno dan dapat dikenakan anak muda, tidak hanya untuk acara formal, tetapi juga sehari-hari,” ungkap pemilik butik Lemari Lila ini.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…