Warga melintasi kawasan parkir di sisi utara Pasar Gede Solo, Senin (18/1/2016). Dishubkominfo Kota Solo merencanakan pembangunan gedung parkir dua lantai di kawasan tersebut untuk menyelesaikan masalah lahan parkir setelah penataan koridor Pasar Gede. (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos)
Jumat, 22 April 2016 17:15 WIB Mahardini Nur Afifah/JIBI/Solopos Solo Share :

PENATAAN PARKIR SOLO
Warga Dukung Gedung Parkir, Ini Alasannya

Penataan parkir Solo, sejumlah warga mendukung rencana pembangunan gedung parkir di Solo.

Solopos.com, SOLO–Sejumlah warga mendukung wacana pembangunan gedung parkir sistem bongkar pasang (knock down) di beberapa lokasi yang digulirkan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo.

Sebagai informasi, tahun ini Pemkot menggangarkan pembangunan dua gedung parkir  sistem bongkar pasang (knock down) di kawasan utara Pasar Gede sisi timur dan di sebelah selatan Stadion Sriwedari yang dianggarkan dari APBD Perubahan (APBD-P) 2016.

Tahun depan, giliran Pemkot giliran mengajukan pembangunan gedung parkir sejenis di tiga titik yakni Balai Kota Solo, RSUD Ngipang, serta di atas Kali Pepe yang terintegrasi dengan Taman Parkir Loji Wetan (dulunya bernama Taman Parkir Mayor Kusmanto).

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kadipiro, Tri Prasetyo, sepakat dengan tujuan utama pembangunan gedung parkir untuk mengatasi krisis lahan parkir dan menunjang kelancaran lalu lintas sekitarnya.

“Tujuannya saya kira baik. Saya mendukung kalau pembangunan gedung parkir untuk mengatasi persoalan lalu lintas,” terangnya saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (22/4/2016).

Tri menyebutkan beberapa lokasi di Solo sudah mendesak dibangun gedung parkir lantaran minimnya lahan parkir. Terkait wacana jangka panjang pemerintah yang ingin menggratiskan parkir, Tri mengatakan konsep parkir berbayar lebih memberikan jaminan rasa aman.

“Gratis memang menyenangkan tapi tidak semuanya menguntungkan. Kami juga butuh jaminan rasa aman saat menitipkan kendaraan,” ujarnya.

Wakil Ketua LPMK Kedunglumbu, H. M. Sungkar, juga setuju dengan pembangunan gedung parkir untuk mengatasi krisis lahan parkir di beberapa tempat di Solo. Namun dia mewanti-wanti agar dinas terkait membuat kajian matang terkait azas manfaatnya ke depan.

“Idenya menurut saya hebat. Tapi mengingat biayanya yang tidak sedikit, saya kira dinas perlu mengkaji betul aspek kemanfaatan dan lokasinya. Kalau perlu gandeng tenaga super ahli yang objektif dan berpengalaman menangani proyek gedung parkir. Sayang kalau nanti sudah dibangun cukup mahal tapi tidak digunakan,” jelasnya secara terpisah.

Sungkar juga mengusulkan dinas terkait mengundang tokoh masyarakat yang ada di Solo untuk menentukan sejumlah lokasi gedung parkir ke depan. “Wacana pembangunan ini belum muncul dalam Musrenbangkot. Saya kira dinas ke depan bisa mengajak bicara tokoh masyarakat untuk memberi masukan lokasi yang pas dan mendesak dibangun,” pesannya.

Warga Margorejo RT 003/RW 010 Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Suharno, 42, mendukung pembangunan gedung parkir. Namun dia tidak sepakat apabila ke depan pemerintah menggratiskan parkir di Solo. “Setuju dengan pembangunan gedung parkir. Tapi kota Solo tidak punya sumber daya alam. Pendapatan daerah nanti dapat dari mana kalau parkir dihapuskan. Menurut saya mending tetap berbayar,” katanya.

Harno, sapaan akrabnya, menyarankan pembangunan gedung parkir ke depan juga bisa memberikan sumber pendapatan baru bagi warga sekitarnya. “Tukang becak sekitar bisa diberdayakan sebagai alternatif pengumpan. Kalau perlu digaji pemerintah seperti Linmas. Tukang parkir juga kalau bisa tetap diberdayakan. Intinya ada manfaat lebih dari pembangunan gedung parkir,” ungkapnya.

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…