Warga membongkar rumah milik Sujar yang letaknya paling atas di Dukuh Krajan, Desa Talun, Kecamatan Ngebel, Ponorogo, Senin (18/4/2016) pagi. (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Jumat, 22 April 2016 12:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

LONGSOR PONOROGO
39 Rumah di Desa Talun akan Direlokasi

Longsor Ponorogo di Dukuh Krajan, Talun, menjadi ancaman serius karena pergerakan tanah terus terjadi.

Solopos.com, PONOROGO — Sebanyak 39 rumah di Dukuh Krajan, Desa Talun, Kecamatan Ngebel, Ponorogo, akan direlokasi ke tempat yang lebih aman. Hal ini mengingat kondisi tanah di dukuh setempat labil dan terus mengalami pergerakan.

Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo, Hery Sulistyono, mengatakan hingga kini kondisi tanah di Dukuh Krajan masih terus bergerak.

Hery menyampaikan dengan kondisi tanah yang terus mengalami gerakan tersebut, sehingga 39 rumah yang ada di dukuh itu akan direlokasi ke tempat yang lebih aman.

Menurut dia, relokasi menjadi salah satu alternatif supaya masyarakat yang terdampak bisa hidup tenang dan tanpa rasa khawatir akan terjadi bencana alam seperti tanah longsor.

Lebih lanjut, relokasi itu dilakukan setelah mendapat rekomendasi dari Badan Geologi Bandung. Direncanakan tim dari Badan Geologi Bandung akan ke Talun pada Jumat (22/4/2016) untuk melihat kondisi tanah di dukuh setempat.

“Kami kan tidak mengetahui secara detail kondisi tanah di Dukuh Krajan, sehingga kami mendatangkan tim geologi supaya meneliti kondisi tanah di dukuh itu. Nanti semisal hasilnya menunjukkan tanah di lokasi itu tidak layak untuk dihuni, tentu kami akan melakukan relokasi,” jelas dia saat dihubungi Madiunpos.com, Jumat.

Hery menyampaikan saat ini Pemkab Ponorogo belum menyediakan lahan untuk relokasi itu. Namun, setelah ada rekomendasi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi, pemerintah akan menentukan solusi terbaik.

Tanah gerak yang terjadi di Desa Talun disebabkan hujan deras yang terus-menerus mengguyur wilayah itu dan mengakibatkan tanah yang berada di lokasi itu bergerak.

Selain itu, di puncak Gunung Banyon ada sumber air yang cukup luas dengan kondisi tanah gembur, sehingga ketika tanah di sumber air itu bergerak akan menyebabkan tanah longsor.

“Hasil pantauan tim BPBD yang melihat di lokasi sumber air, memang di lokasi itu sudah membahayakan. Tanah yang berada di dekat sumber air kondisinya kan gembur, jadi ketika diguyur hujan langsung longsor ke bawah dan bergerak,” jelas dia.

Dia menyebutkan tanah bergerak di Desa Talun bukan kali ini saja terjadi, tetapi pergerakan tanah paling parah memang baru kali ini. Dia mencatat, peristiwa tanah bergerak di Desa Talun terjadi pada 2010, 2014, dan terakhir 2016.

Sampai Jumat, sebanyak 105 orang dari 39 keluarga di Dukuh Krajan masih mengungsi di Balai Desa Talun. Mereka sudah tinggal di pengungsian selama sepekan dan dimungkinkan masih akan terus bertahan hingga kondisi tanah di kampung mereka aman.

Seorang pengungsi, Saminim, 51, mengatakan masih bertahan di lokasi pengungsian karena kondisi di rumahnya belum aman dan tanah terus bergerak. Dia setuju ketika ada proses relokasi yang akan dilakukan Pemkab Ponorogo. Menurut dia, itu merupakan solusi bagi warga yang selama ini takut atas kondisi di wilayahnya.

“Kalau kami sebenarnya manut sama pemerintah, yang penting itu baik bagi kami. Beberapa tahun terakhir kami khawatir tinggal di rumah sendiri, karena bencana alam terus mengancam,” jelas dia.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…