Sejumlah warga mengais puing-puing kebakaran Pasar Bendungan Wates Kulonprogo, Kamis (21/4/2016). (Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja) Sejumlah warga mengais puing-puing kebakaran Pasar Bendungan Wates Kulonprogo, Kamis (21/4/2016). (Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 22 April 2016 13:20 WIB Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

KEBAKARAN PASAR BENDUNGAN
Warga Cari Barang Bekas di Puing-Puing Pasar

Kebakaran Pasar Bendungan memberi berkah pada pemulung

Solopos.com, KULONPROGO-Musibah kebakaran di Pasar Bendungan, Wates membawa rezeki bagi sejumlah pemulung besi dan alumunium bekas. Sejumlah pemulung mengais puing-puing kebakaran mencari barang bekas yang bisa dijual pada Kamis (21/4/2016).

(Baca juga : KEBAKARAN PASAR : Pasar Bendungan Kulonprogo Terbakar, Ratusan Kios dan Los Ludes)

Hari kedua sejak kebakaran terjadi, sejumlah warga mulai diperbolehkan masuk ke dalam area pasar yang terbakar. Selain sejumlah pemilik kios dan lapak yang mencari barang-barangnya yang tersisa, adapula sejumlah pemulung yang sengaja memanfaatkannya untuk mencari barang-barang yang bisa dijual kembali.

Partini, warga Sangiran Kidul, Bendungan yang merupakan pemulung alumunium dan besi bekas menyatakan bahwa hari sebelumnya area tersebut masih dikelilingi garis polisi sehingga orang awam dilarang masuk. “Hari ini sudah boleh masuk malah pak polisi pesan supaya hati-hati,” ujarnya ditemui di lokasi, Kamis (21/4/2016).

Ia sendiri tidak memiliki kios atau lapak di pasar tersebut. Partini biasanya mengumpulkan barang bekas dengan membeli ke sejumlah perkampungan sekitar. Khusus hari itu, ia memang sengaja datang ke puing-puing tersebut karena yakin pasti banyak barang bekas yang tersedia. Meski tak memiliki kios, menurutnya pemilik kios sama sekali tidak keberatan jika barang-barangnya yang terbakar dipunguti.

Bahkan, adapula beberapa pemilik kios yang terbakar akhirnya melakukan kegiatan serupa. Partini sendiri sudah mendapatkan nyaris 2 kilogram hingga siang hari itu. Untuk aluminum bekas harganya berkisar Rp5.000 per kilogram sedangkan besi bekas berkisar Rp1.000 per kilogram. Biasanya alumunium dihargai hingga Rp11.000 per kilogram namun karena kondisinya yang sisa terbakar maka harganya jauh lebih murah.

Meski demikian, ia sama sekali merasa tidak masalah jika harga jualnya lebih murah. Pasalnya, berapapun nominal yang didapatnya dari hasil barang-barang yang terbakar tersebut, ia tidak mengeluarkan modal untuk membeli barang bekas tersebut.

Sementara itu, Sukarman yang juga merupakan pencari barang bekas menjelaskan bahwa ia memang diminta pemilik kios yang terbakar untuk membersihkan puing-puing tersebut.

“Pemilik kios pesannya silahkan dipilih, dimanfaatkan sebisanya,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa sejumlah puing-puing tersebut dipilah sebagai sampah yang harus dibuang dan sejumlah material yang bisa diloakkan. Ia menyebutkan bahwa kegiatan tersebut dilakukan sembari menunggu pengajuan bantuan pembenahan kios kepada pemerintah desa.

LOWONGAN PEKERJAAN
QUALITY CONTROL & ADMIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…