Ilustrasi Singapura (Dok/JIBI/Bisnis)
Jumat, 22 April 2016 23:30 WIB Lavinda/JIBI/Bisnis Hukum Share :

Buru Buron Koruptor, Indonesia Desak Singapura Teken Perjanjian Ekstradisi

Buron koruptor sedang dikejar-kejar pemerintah. Singapura didesak menandatangani perjanjian ekstradisi.

Solopos.com, JAKARTA — Pemerintah berharap Singapura bersedia menyepakati perjanjian ekstradisi untuk membantu proses penangkapan buronan yang terlibat sejumlah kasus hukum nasional. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengapresiasi aparat negara atas penangkapan buronan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia yabg telah dicati sejak 13 tahun lalu, Samadikun Hartono, di China.

JK juga mengapresiasi pemerintah China yang telah bekerja sama membantu proses penangkapan tersebut. Menurut dia, koordinasi berjalan dengan baik karena adanya perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan China. Terlebih, China juga sedang gencar melakukan pemberantasan korupsi di negaranya sehingga memberi perhatian khusus pada proses pemberantasan korupsi di luar negeri.

“Hal yang sama bisa terjadi di negara lain. Sekiranya kita ada ekstradisi dengan Singapura akan jauh lebih banyak lagi. Cuma Singapura tidak pernah mau teken-teken,” ujarnya di Istana Wakil Presiden, Jumat (22/4/2016).

Menurut dia, Singapura yang menjadi negara tujuan untuk melarikan diri paling banyak justru tak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Ke depan, JK berharap pemerintah mengubah pikiran dan bersedia menandatangani kerja sama tersebut.

Setelah tiga buronan berhasil ditangkap, pemerintah memberikan sinyal bahwa buronan lain harus siap dapat giliran atau menyerahkan diri. Totok Ary Prabowo, Samadikun Hartono, dan Hartawan Aluwi, ditangkap aparat pemerintah dalam upaya perburuan buronan di luar negeri.

Mantan Bupati Temanggung, Jawa Tengah, Totok Ary Prabowo, ditangkap di Kamboja pada 8 Desember 2015 setelah buron pada 2010. Mantan presiden komisaris PT Bank Modern Samadikun Hartono ditangkap di Shanghai, China, pada 14 April 2016 setelah buron sejak 2003. Sedangkan tersangka presiden komisaris PT Antaboga Delta Sekuritas Hartawan Aluwi ditangkap di Singapura setelah buron atas kasus skandal Bank Century.

Samadikun dan Hartawan dipulangkan pada hari yang bersamaan pada Kamis (21/4/2016). Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso menyatakan sampai sekarang pihaknya masih memburu 28 orang buronan terpidana korupsi. Mereka bisa saja bersembunyi di mana pun tetapi aparat tetap memburu.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…