Basuki Tjahaja Purnama (Ahok.org) Basuki Tjahaja Purnama (Ahok.org)
Jumat, 22 April 2016 16:34 WIB Asteria Desi Kartika Sari/Detik/JIBI Peristiwa Share :

BANJIR JAKARTA
Kesal Pada Wali Kota Jakarta Utara, Ahok: Jangan-Jangan Kubu Yusril!

Banjir Jakarta membuat Ahok kesal pada Wali Kota Jakarta Utara. Bahkan sempat menduga sepihak dengan Yusril Ihza Mahendra.

Solopos.com, JAKARTA — Rapat soal penanganan pascabanjir berlangsung tegang. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) marah-marah. Tak hanya mempertanyakan kenapa air tak dialirkan ke saluran menuju Waduk Pluit dan Pasar Ikan, pertanyaan Ahok juga menyinggung rivalitasnya dengan Yusril Ihza Mahendra.

Dalam rapat itu, Wali Kota Jakarta Utara Rustam Effendi menjadi bulan-bulanan. Dia bahkan dituding Ahok menjadi orang yang sekubu dengan politikus Partai Bulan Bintang (PBB) yang akan mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta itu.

Rapat diselenggarakan di Ruang Smart City, Balai Kota, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (22/4/2016). Hadir Rustam Effendi, Wali Kota Jakarta Pusat Mangara Pardede, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Denny Wahyu Haryanta, dan belasan pasukan biru Dinas Tata Air.

Pernyataan itu bermula saat Ahok mengemukakan ide agar saluran air dari Ancol diteruskan sehingga menyambung sampai Pasar Ikan. Dengan demikian, diharapkan kawasan pintu air Ancol tak bakal banjir. “Memang betul, Pak,” jawab seorang perempuan sebagai staf dari Dinas Tata Air DKI.

Ahok, dengan nada keras, bertanya, “Kenapa enggak kamu kerjakan?” Lantas staf perempuan tadi menjawab bahwa ada penyempitan saluran (bottle neck) di kawasan Ancol.

Ahok menyatakan alat-alat berat Pemerintah Provinsi DKI bisa membereskan kendala bottle neck di situ. Namun yang jadi masalah, bottle neck itu berwujud permukiman manusia. “Ya usir!” sahut Ahok, keras.

Staf perempuan itu menyatakan sudah mengusulkan penertiban kawasan saluran air di Ancol yang menjadi permukiman itu. Namun hingga hari ini, belum ada eksekusi penertiban permukiman yang menghalangi aliran air itu. “Sudah kami usulkan sejak tahun kemarin, Pak,” kata staf perempuan ini.

Dari sinilah, Ahok mengarahkan pandangannya ke Rustam Effendi. Dia kesal Rustam tidak segera menindaklanjuti usulan penertiban saluran air itu. Ahok menduga, Rustam sekubu dengan Yusril. “Aduh, ini Pak Wali kota ini saya selalu bilang begini Pak Wali, Pak Wali kalau saya suruh usir orang itu wah ngeyelnya ngeles,” kata Ahok kesal, kepada Rustam.

“Jangan-jangan satu pihak sama Yusril ini, supaya…,” tuding Ahok namun tak melanjutkan kalimatnya.

Seisi ruangan justru tertawa mendengar ucapan Ahok itu. Rustam terlihat menggerakkan tangannya ke arah Ahok, gestur menolak tudingan tersebut.

Sebelumnya, di Balai Kota, Ahok mengatakan ada yang masih mengganjal saat kawasan Gunung Sahari Jakarta Pusat dan Pademangan Jakarta Utara tergenang air. Alasan tergenangnya kawasan tersebut lantaran pompa air yang berada di kawasan Ancol ada yang mati. Sementara itu, yang masih mengganjal menurut Ahok adalah air yang seharusnya dialirkan ke Waduk Pluit malah dialirkan ke Gunung Sahari dan Ancol.

“Saya lihat di Istiqlal tadi. Di Juanda [Jakarta Pusat] airnya penuh enggak? Enggak juga,” kata Ahok di Balai Kota.

Menurut Ahok, seharusnya air yang dialirkan melewati saluran di Jakarta Pusat apabila terjadi hujan. Kemudian air tersebut selanjutnya akan melewati tangki Jakarta Barat dan bermuara di Waduk Pluit dan Pasar Ikan.

Tapi, hal itu tidak dilakukan sehingga membuat Ahok geram. Air justru dialirkan ke arah utara, yakni ke Gunung Sahari, Jakarta Pusat; dan Ancol, Jakarta Utara.

“Seharusnya kalau membuang air ke arah Tangki (Tamansari Jakarta Barat). Kalau buang ke Tangki kan langsung masuk ke Waduk Pluit, Pasar Ikan. Waduk Pluit kondisinya minus 2” kata Ahok heran.

Anehnya, banjir terjadi di Jakarta Pusat dan Utara, namun Waduk Pluit tak digenangi air. Ternyata, air memang diarahkan ke Gunung Sahari dan Ancol dengan begitu terjadi banjir di sejumlah wilayah di Pademangan dan Gunung Sahari.

“Jadi ngapain air semua diarahkan ke Gunung Sahari, ke Marina Ancol yang membebani Pademangan? Sedangkan di Waduk Pluit Pasar Ikan, kapasitas pompa baru, waduknya dalam sudah dikeruk lagi 2 juta meter kubik, kok enggak dikasih air begitu loh? Maka kita mesti duduk bareng,” jelas Ahok.

LOWONGAN PEKERJAAN
Shunda Plafon Solo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Sentilan Realitas di Bak Truk

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (22/11/2017). Esai ini karya Shela Kusumaningtyas, penulis dan alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang. Alamat e-mail penulis adalah kusuma.cel@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Masyarakat di sepanjang jalur pantai utara Jawa umumnya terbiasa menyaksikan lalu…