Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIY, Kombes Pol Soetarmono saat menjadi pemateri dalam kegiatan diseminasi informasi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) kepada kelompok masyarakat Kulonprogo di Gedung Binangun, Wates, Kulonprogo, Rabu (20/4). Harian Jogja/(Rima Sekarani I.N.)
Kamis, 21 April 2016 03:40 WIB Rima Sekarani/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

PEREDARAN NARKOBA
Satgas Antinarkoba Diharapkan Tersebar di Semua Desa

Setiap desa diharapkan memiliki satgas antinarkoba untuk mendukung program Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

 

 

Solopos.com, WATES-Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di DIY dinilai semakin memprihatinkan. Setiap desa diharapkan memiliki satgas antinarkoba untuk mendukung program Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

Hal itu diungkapkan Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIY, Kombes Pol Soetarmono usai menjadi pemateri dalam kegiatan diseminasi informasi P4GN kepada kelompok masyarakat Kulonprogo di Gedung Binangun, Wates, Kulonprogo, Rabu (20/4/2016). Menurutnya, dana desa bisa dimanfaatkan sebagian untuk mendukung kegiatan P4GN oleh satgas antinarkoba masing-masing desa. “Nanti ada unit pencegahan, pemberdayaan, rehabilitasi, pemberantasan sehingga kalau ada masalah terkait narkoba bisa segera koordinasi dengan BNN,” kata dia.

Soetarmono memaparkan, ada dua pengungkapan sindikat narkoba yang mengancam masyarakat DIY pada pekan lalu. Pertama adalah pengungkapan sindikat asal Afrika Selatan pada Kamis (14/4/2016). Barang bukti berupa 688,7 gram diketahui akan diserahkan kepada sindikat berikutnya di Jakarta. “Lalu menempel di tubuhnya [tersangka] 750 gram yang nanti akan beredar di Jogja,” ucap Soetarmono.

Sindikat narkoba asal Taiwan kemudian ditangkap dengan barang bukti 1.014 gram sabu pada Jumat (15/4/2016). Narkoba tersebut sempat melalui beberapa daerah sebelum akhirnya tiba di Jogja. Soetarmono mengatakan, jika satu gram sabu bisa dikonsumsi empat orang, akan ada lebih dari 4.000 orang yang berpotensi menjadi korban penyalahgunaan narkoba.

Soetarmono lalu mengungkapkan, diseminasi informasi P4GN hari itu memang sengaja menyasar tokoh masyarakat, pemuda dan karang taruna, hingga organisasi masyarakat. Semua peserta otomatis menjadi kader P4GN. Mereka diharapkan bisa menyebarkan informasi mengenai bahaya narkoba serta cara pencegahan dan pemberantasannya. “Kita mengajak masyarakat untuk sama-sama memerangi sindikat narkoba melalui program P4GN,” ujar Soetarmono.

Sekretaris Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Kulonprogo, Arif Prastowo menyatakan sudah ada 22 kampung bebas narkoba di Kulonprogo. Jumlah tersebut diharapkan bisa bertambah agar keberadaan satgas antinarkoba juga semakin banyak.

Arif mengatakan, kasus narkoba di Kulonprogo memang cenderung rendah dibanding kabupaten/kota lain di DIY. Namun, bukan berarti Kulonprogo dijamin lebih aman dari ancaman narkoba. “Perkembangan pembangunan daerah akan sangat pesat, salah satunya setelah ada bandara. Keluar-masuk barang menjadi sangat mudah. Mari kita lindungi orang terdekat dari bahaya narkoba,” ungkap Arif.

LOWONGAN PEKERJAAN
SMK MUHAMMADIYAH 04 BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pertanian Maju, Petani Sejahtera

Gagasa ini dimuat Harian Solopso edisi Kamis (16/11/2017). Esai ini karya Budi Sutresno, anggota staf Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Karanganyar. Solopos.com, SOLO–“Maju Pertaniannya, Sejahtera Petaninya” adalah semacam doa yang diilhami dari tagline Pemerintah Kabupaten Karanganyar menjelang perayaan seabad Kabupaten…