Ayunda Dewi Nasiroh, 7, bocah tanpa anus asal Ponorogo terbaring di RSUD dr. Moewardi Solo. (Istimewa)
Kamis, 21 April 2016 11:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

PENYAKIT LANGKA
Bocah Tanpa Anus Asal Ponorogo Butuh Bantuan Pengobatan

Penyakit langka diderita bocah asal Ponorogo yang lahir tanpa anus.

Solopos.com, PONOROGO — Ayunda Dewi Nasiroh, 7, bocah yang terlahir tanpa anus atau atresia ani asal Ponorogo saat ini masih terbaring di tempat tidur di Rumah Sakit dr. Moewardi Solo, Jawa Tengah.

Ayunda baru saja menjalani operasi karena kelainan yang dideritanya, Kamis (14/4/2016) lalu, dan bocah itu dalam masa penyembuhan di rumah sakit.

Pada awalnya, Ayunda yang terlahir tanpa anus itu dibuatkan anus buatan di bagian perut sebelah kirinya. Sehingga, saat buang hajat, kotoran dari dalam tubuh Ayunda keluar dari anus buatan di bagian perutnya. Namun, kondisi tersebut dirasa merepotkan saat Ayunda mengalami diare.

Kepada Madiunpos.com, ayah Ayunda, Suyadi, 44, menceritakan sebenarnya Ayunda telah tiga kali menjalani operasi karena kelainan yang dideritanya.

Yang pertama pada Desember 2015, Ayunda menjalani operasi pembuatan anus di bagian pantat seperti keberadaan anus pada umumnya. Saat itu, operasi dilakukan di RSUD dr. Moewardi Solo.

Selanjutnya, pada Februari 2016, Ayunda kembali masuk ke RSUD dr. Moewardi Solo untuk menjalani operasi penutupan anus yang ada di bagian perut.

Namun, setelah operasi kedua ini, justru terjadi kerusakan pada bagian anus bagian bawah Ayunda dan hal itu mengakibatkan kotoran tidak bisa keluar dari anus buatan. Perut Ayunda juga sempat membuncit karena kotoran tidak bisa keluar.

“Atas kondisi itu, kami membawa Ayunda lagi ke RSUD dr. Moewardi dan setelah itu, kotoran tidak keluar dari anus yang ada di bagian bawah, tetapi kotoran keluar dari anus yang ada di perut,” kata dia saat berbincang dengan wartawan di gedung DPRD Ponorogo, Rabu (20/4/2016).

Suyadi menambahkan Ayunda kembali dibawa ke RSUD dr. Moewardi Solo untuk memeriksakan kondisi anaknya tersebut.

Suyadi ke RSUD dr. Moewardi  menggunakan BPJS Kelas II, namun saat itu kamar kelas II sedang kosong, kemudian seorang petugas rumah sakit mengusulkan untu naik kelas. Dia pun setuju untuk pindah kelas dengan tujuan anaknya supaya segera sembuh.

“Kalau pada saat operasi pertama dan kedua itu dibiayai oleh donatur. Namun, karena dianggap sudah sembuh, sehingga donatur itu menyudahi pengobatan untuk Ayunda. Dan ternyata pembuatan anus Ayunda tidak berjalan dengan baik dan pada saat itu kembali ke rumah sakit tanpa pembiayaan dari donatur,” jelas dia.

Karena kondisi Ayunda yang semakin kritis, selanjutnya dokter RSUD dr. Moewardi mengoperasi anus buatan yang ada di bagian bawah. Setelah itu, ada tagihan dari rumah sakit senilai Rp27 juta. Namun, tagihan tersebut belum dipotong dari pembiayaan BPJS.

Dia menuturkan biaya tersebut untuk membayar biaya selisih naik kelas dari kelas II ke kelas I dan biaya operasi. Dia memperkirakan uang yang harus disediakan yaitu sekitar Rp10 juta.

Warga RT 002/RW 002, Desa/Kecamatan Sampung ini menambahkan saat ini dia hanya mampu membayar uang senilai Rp3 juta dan sudah dibayarkan ke pihak rumah sakit. Saat ini, dirinya sedang menjual beberapa harta benda miliknya, seperti tanah, sepeda motor, dan hewan ternak.

“Tanah digadaikan dengan nilai Rp5 juta, sepeda motor laku sekitar Rp2 jutaan, dan hewan ternak belum laku. Saat ini masih mencari pembeli,” ujar dia.

Dia pun berusaha mencari bantuan ke Pemkab Ponorogo untuk melunasi tagihan biaya perawatan Ayunda di rumah sakit.

“Saya saat ini tidak memiliki uang sama sekali, seluruh uang sudah habis untuk biaya operasional dan biaya hidup keluarga yang menunggu Ayunda di rumah sakit,” kata penjual nasi goreng ini.

Dia menuturkan Ayunda belum diperbolehkan pulang dari rumah sakit karena masih dalam masa penyembuhan. Tentunya kondisi itu membuat biaya sewa kamar dan obat akan semakin membengkak.

“Saya yang penting Ayunda bisa sembuh, ini lagi berusaha untuk mencari uang untuk membayar semua tagihan rumah sakit. Ayunda sudah dirawat di rumah sakit selama satu bulan,” imbuh dia.

LOWONGAN PEKERJAAN
SUPERVISOR JAHIT & PENJAHIT HALUS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…