Novita Dewi, salah satu pemain liong Ladies Dragon Hoo Hap Hwee Jogja, saat berwisata di Gembiraloka Zoo. (Foto Istimewa) Novita Dewi, salah satu pemain liong Ladies Dragon Hoo Hap Hwee Jogja, saat berwisata di Gembiraloka Zoo. (Foto Istimewa)
Kamis, 21 April 2016 12:55 WIB Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

KISAH INSPIRATIF
Tiru Semangat Kartini, Novita Menjadi Pemain Liong

Kisah inspiratif datang dari seorang pemain liong perempuan

Solopos.com, JOGJA- Usia tak menghalanginya untuk berkarya. Justru di usianya yang hampir mencapai kepala empat, eksistensi ibu dua anak ini semakin terlihat.

Dia adalah Novita Dewi, seorang perempuan keturunan Tionghoa yang berprofesi sebagai pemain liong. Ia mulai menggeluti profesi ini baru sekitar satu tahun lalu. Saat ini ia tergabung dalam kesenian liong Ladies Dragon Hoo Hap Hwee Jogja.

Di dalam timnya, perempuan yang akrab disapa Fei-Fei ini tampil lebih dewasa dibandingkan teman-temannya yang mayoritas berusia di bawah 30 tahun. Novita sendiri saat ini sudah berusia 39 tahun.

Awal mula Novita terjun di dalam kesenian ini bermula saat ia melihat rekan-rekannya berlatih liong. Rasa jatuh cinta terhadap salah satu kesenian Tionghoa ini pun mulai tumbuh. Ia ikut berlatih dan aktif dalam berbagai pertunjukan.

“Saya orangnya penasaran dan ingin ikut jaga budaya yang masih klasik dan ternyata ada jalannya khusus perempuan. Makanya saya gabung [Ladies Dragon Hoo Hap HweeJogja],” kata dia, Rabu (20/4/2016).

Meski usianya tidak lagi muda, fisiknya berani diadu dengan pemain muda lainnya. Ia semakin tertantang saat diberi kepercayaan bermain liong pada bagian ekor yang mana posisi ini membutuhkan banyak gerakan lari. Namun, berkat olahraga yang rutin ia lakukan di alun-alun Jogja, ia mampu memainkan liong dengan baik serta menampilkan gerakan yang indah dan atraktif.

Dalam hubungan dengan tim, ia berusaha menyamakan chemistry dengan sesama temannya. “Kadang saat kita berkumpul, mereka lupa kalau usia saya jauh di atas mereka,” tandasnya.

Novita menyadari bahwa bermain liong membutuhkan kerja tim yang kompak. Oleh karena itu ia banyak berbaur dengan anggota tim untuk menyamakan persepsi gerakan dan juga mengenal karakter teman-temannya.

Novita mengakui bahwa dirinya termasuk perempuan yang senang mengembangkan wawasan. Usia menurutnya bukan menjadi alasan untuk tidak berkarya. “Justru dengan cara ini [menjadi pemain liong] ini cara saya mengembangkan budaya meski tidak dibayar. Saya selalu ingin belajar seperti Kartini,” ujar perempuan yang tinggal di Jl. Jogokaryan No.76 Jogja ini.

Untuk menghidupi kedua putranya, Aditya Putera Tanriawan dan Dicky Reza Tanriawan, Novita menjadi guru Mandarin honorer di Yogyakarta Independent School (YIS) di Jl. Magelang. Ia juga tak segan-segan berjualan makanan dan pakaian untuk menambah pemasukan.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Musik untuk Palestina

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/12/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pendengar musik metal ala Timur Tengah. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin masalah lagi….