Beberapa Usaha Mikro, kecil, dan Menengah (UMKM) mengikuti pameran yang digelar oleh BPD DIY di The Sahid Rich Jogja Hotel, Kamis (21/1/2016). (Bernadheta Dian Saraswati) Beberapa Usaha Mikro, kecil, dan Menengah (UMKM) mengikuti pameran yang digelar oleh BPD DIY di The Sahid Rich Jogja Hotel, Kamis (21/1/2016). (Bernadheta Dian Saraswati)
Kamis, 21 April 2016 14:20 WIB Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

EKSPOR UMKM
Pemerintah akan Intervensi untuk Menekan Biaya Perantara Ekspor

Ekspor UMKM akan mendapatkan dukungan dari pemerintah dengan intervensi menjadi perantara

Solopos.com, JOGJA—Pemerintah akan ambil peran dalam ekspor terutama untuk menggantikan perantara yang selama ini dikelola oleh swasta. Tujuannya, agar Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dapat melakukan ekspor dengan biaya lebih murah.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing KUKM, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Muhammad Rudy Salahuddin mengungkapkan, biaya akan tinggi jika peran perantara dibiarkan kepada swasta. Saat ini Pemerintah sedang menyusun konsep agregator dan konsolidator ekspor UKM.

“Pemerintah melakukan sinergi lima BUMN trading-logistik untuk memberikan layanan perdagangan yang efektif,” papar dia kepada wartawan di sela-sela Policy Dialogue Series Peran Jasa Perantara dalam Meningkatkan Ekspor UMKM di Grand Aston, Jogja, Rabu (20/4/2016).

Ia memaparkan, kondisi saat ini adalah jumlah UMKM yang naik kelas tidak terlalu banyak bahkan cenderung stagnan. Kesenjangan produktivitas antara usaha besar dan UMKM makin melebar. Ia mencontohkan pada 2009, produktivitas usaha besar adalah 14.332 kali lebih besar dibanding usaha mikro.

“Pada 2013 kesenjangannya melebar menjadi 15.839 kali,” ujar dia.

Untuk ekspor, saat ini hampir sebagian besar UMKM menggunakan jasa perantara dalam melakukan ekspor. Hal ini dikarenakan UMKM mempunyai keterbatasan yaitu batasan dalam kebijakan dan constrain.

Batasan dalam kebijakan menjadi kendala karena  ada disiplin pasar yang  menyebabkan sulit bersaing seperti ketentuan ekspor, ketentuan impor di negara tujuan, syarat distribusi di luar negeri, dan dokumentasi.

Sementara itu, constrain adalah market adjustment di mana UMKM belum memiliki kemampuan untuk melakukan ekspor secara sendiri. Ada kendala persaingan antara lain standarisasi, sertifikasi, packaging, dan labelling.

“Hanya sebagian kecil UMKM yang dapat langsung melakukan ekspor tanpa perantara,” papar dia.

lowongan pekerjaan
Kepala Produksi mebel, Drafter, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL JL CPT Taft GT4x4’94,Body Kaleng,Ori,Asli KLATEN:081391294151 (A00593092017) DP Mura…
  • LOWONGAN CARI PTIMER 2-4 Jam/Hari Sbg Konsltn&SPV Bid.Kshtn All Bckgrnd Smua Jursn.Hub:0811.26…
  • RUMAH DIJUAL Jual TNH&BGN HM 200m2,LD:8m,Strategis,Makamhaji,H:08179455608 (A00280092017) RMH LT13…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Gerai Matahari dan Penjualan Kembali ke Fungsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (22/9/2017). Esai ini karya Flo. Kus Sapto W., seorang praktisi pemasaran. Alamat e-mail penulis adalah floptmas@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Berita akan ditutupnya dua gerai Matahari di Pasaraya Manggarai dan Blok M, Jakarta, cukup menarik…