Ilustrasi evakuasi korban banjir. (JIBI/Solopos/Antara/Widodo S. Jusuf) Ilustrasi evakuasi korban banjir. (JIBI/Solopos/Antara/Widodo S. Jusuf)
Kamis, 21 April 2016 05:05 WIB JIBI/Solopos/Antara Madiun Share :

BENCANA TRENGGALEK
Personel Minim, Tim SAR Trenggalek Optimalkan Seluruh Potensi

Bencana Trenggalek dan sekitarnya dalam pemantauan tim SAR setempat.

Solopos.com, TRENGGALEK – Musim hujan belum juga berakhir sehingga Badan SAR Nasional Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, tetap siaga 24 jam nonsetop untuk mengantisipasi peningkatan potensi bencana daerah.

“Tidak ada alasan untuk tidak bisa melakukan pertolongan kepada masyarakat, di mana pun lokasinya meski dengan jumlah personel minim,” kata Koordinator Basarnas Pos SAR Trenggalek, Alfando Okta Bahari di Trenggalek, Rabu (20/4/2016).

Dia menambahkan untuk mengefektifkan fungsi SAR di Pos SAR Trenggalek yang hanya berjumlah 24 personel, dilakukan pembagian tugas berdasar empat kelompok search and rescue unit (SRU) yang masing-masing beranggotakan 5-7 personel.

Selain itu, kata Alfando, Basarnas aktif melakukan pelatihan maupun penguatan kapasitas potensi SAR yang ada di masyarakat, baik dari unsur TNI/Polri, pramuka, tagana, komunitas pecinta alam, maupun berbagai potensi SAR lain.

“Kami harus akui jumlah personel Basarnas Pos SAR Trenggalek jauh dari kata ideal. Harusnya satu anggota SAR itu mengover 100 KK. Tapi kami sejauh ini hanya memiliki 24 personel sementara wilayah tugas sangat luas,” ujar dia.

Alfando mengatakan saat ini pos SAR Trenggalek menaungi sebelas daerah di wilayah eks-Karesidenan Kediri dan Madiun.

Wilayah atau daerah dimaksud yakni Kabupaten/Kota Kediri, Kabupaten/Kota Blitar, Kabupaten/Kota Madiun, Nganjuk, Tulungagung, Trenggalek, Ngawi, dan Pacitan.

Padahal, kata Alfando, jumlah personel Basarnas di Pos SAR Trenggalek saat ini hanya 24 orang.

“Tidak ada pilihan. Sesuai amanah Undang-undang dan selaku kepanjangan tangan pemerintah dalam melakukan fungsi SAR di daerah dan seluruh tanah air, tanggung jawab pertolongan kepada masyarakat harus tetap berjalan,” ujar dia.

Alfando menetapkan standar operasional prosedur (SOP) untuk merespons permintaan bantuan SAR maksimal 30 menit setelah laporan masuk.

Jika satu tim SRU dikerahkan ke satu lokasi bencana dengan korban masih dalam proses tindakan operasi lapangan lalu muncul bencana di tempat lain dan terjadi korban, Alfando sesuai SOP basarnas akan memerintahkan tim SRU 2 untuk bergerak.

“Kalau kejadiannya besar dan mayoritas personel terfokus di satu lokasi bencana/musibah, kami akan mengirim tim kecil untuk melakukan tindakan pertolongan awal di lokasi kedua, atau dengan meminta bantuan tim Basarnas dari Surabaya,” katanya.

Hal yang tak kalah penting menjadi upaya basarnas, lanjut Alfando, adalah dengan mengoptimalkan setiap potensi SAR di daerah-daerah.

LOWONGAN PEKERJAAN
Tegar Transport Hotel Paragon Solo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…