Seorang pejuang Abu Sayyaf (kiri) berpose dengan militan dari Malaysia dan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) pada 2015 (straitstimes.com) Seorang pejuang Abu Sayyaf (kiri) berpose dengan militan dari Malaysia dan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) pada 2015 (straitstimes.com)
Rabu, 20 April 2016 20:00 WIB Adib Muttaqin Asfar/JIBI/Newswire Internasional Share :

WNI DISANDERA ABU SAYYAF
Militer Filipina Desak Indonesia Jangan Bayar Tebusan

WNI disandera Abu Sayyaf segera ditebus dengan uang 50 juta peso. Namun, militer Filipina mendesak Indonesia tak bayar tebusan.

Solopos.com, JAKARTA — Militer Filipina meminta Indonesia tidak membayar tebusan kepada Abu Sayyaf untuk membebaskan 10 WNI yang disandera kelompok tersebut. Hal itu untuk menghentikan kebiasaan teroris menyandera orang untuk meminta tebusan seperti yang dilakukan terhadap kru kapal Indonesia dan Malaysia.

Hal itu diungkapkan juru bicara militer Filipina merespons pernyataan Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan yang memastikan bahwa perusahaan akan membayar uang tebusan. Uang tersebut murni berasal dari perusahaan asal Taiwan tempat 10 ABK WNI itu bekerja.

“Angkatan bersenjata selalu meminta semua pihak untuk memperhatikan kebijakan tanpa uang tebusan,” kata juru bicara militer Filipina, Brigjen Restituto Padilla, Rabu (20/4/2016), yang dikutip Reuters.

Dia mengatakan militer Filipina ingin menghentikan kebiasaan permintaan tebusan dengan penculikan dan menyetop sumber pendanaan bagi kelompok teroris. Baca juga: 10 WNI Segera Ditebus dengan 50 Juta Peso, 4 Lainnya Belum Jelas.

Sebelumnya, Luhut menyampaikan perusahaan tempat 10 WNI tersebut bekerja memastikan akan membayar 50 juta peso untuk membebaskan para sandera sejak akhir Maret lalu. Padahal, selama ini Filipina jarang mempublikasikan adanya pembayaran tebusan dan lebih memilih cara pembebasan yang lebih halus.

Padilla menyatakan Filipina terus melakukan operasi militer untuk pembebasan sandera. “Keamanan korban penculikan adalah perhatian utama kami,” tambahnya.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Solusi Kemanusiaan untuk Jerusalem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/12/2017). Esai ini karya Mudhofir Abdullah, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah mudhofir1527@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pernyataan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel yang…