Dua pesawat Casa NC212 milik Skuadron Udara 600 Wing Udara 1 Puspenerbal, melakukan terbang formasi melintas di atas Pulau Kambing. Sebagai latar belakang tampak tiga kapal perang Republik Indonesia (KRI) yang mengarungi Laut Jawa. Momentum formasi indah alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI itu ditangkap saat gladi resik peringatan HUT Ke-69 TNI, Sabtu (4/10/2014). (JIBI/Solopos/Antara/M. Risyal Hidayat) Ilustrasi (JIBI/Solopos/Antara/M. Risyal Hidayat)
Rabu, 20 April 2016 22:00 WIB Adib Muttaqin Asfar/JIBI/Solopos Internasional Share :

WNI DISANDERA ABU SAYYAF
Inilah Penyebab Filipina Mati-Matian Tolak Bantuan TNI

WNI disandera Abu Sayyaf menjadi pertaruhan wibawa militer Filipina yang telah menolak bantuan militer Indonesia.

Solopos.com, JAKARTA — TNI berulang kali menyatakan siap melakukan operasi militer jika diperintahkan untuk membebaskan WNI yang disandera Abu Sayyaf di Filipina Selatan. Namun, pemerintah Filipina selalu menolak meskipun militer negara itu tak mampu menguasai wilayah tersebut.

Sikap pemerintah Filipina ini bukan tanpa sebab. Selain soal konstitusi negara itu yang melarang pasukan asing ikut campur di teritorial mereka, sikap ini terkait kondisi Filipina yang sedang terancam teritorialnya dari berbagai sisi, termasuk dalam sengketa Laut China Selatan.

Pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Sofwan Al Bana, mengatakan sebenarnya kesepakatan untuk melakukan kerja sama dalam keamanan regional Asia Tenggara sudah berlangsung lama. Namun, tidak ada keinginan dari negara-negara ASEAN, termasuk Filipina, untuk merealisasikan.

“Jadi begini, isu keamanan wilayah ini kan sangat sensitif. Apalagi saat ini sedang memanas konflik di laut China Selatan. Nah, pemerintah Filipina sedang menghadapi ancaman serius dari China yang beberapa kali mengancam teritorialnya,” kata Sofwan dalam Prime Time News Metro TV, Rabu (20/4/2016).

Dalam kasus ini, pemerintah Filipina tak ingin tampak lemah untuk menyelesaikan kasus penculikan oleh Abu Sayyaf. Meski tak bisa menguasai seluruh Filipina Selatan, keberhasilan militer Filipina setidaknya menjadi ukuran kemampuan mereka menghadapi kekuatan yang lebih besar, yaitu militer China.

“Jadi mengapa Filipina sangat kuat untuk menolak bantuan militer Indonesia. Perlu dipahami, kalau mereka mengizinkan militer Indonesia masuk, berarti mereka akan terlihat lemah. Hanya menghadapi Abu Sayyaf saja tidak bisa, apalagi menghadapi raksasa dari utara [China],” kata dia.

Sebelumnya, militer Filipina meminta Indonesia tidak membayar tebusan kepada Abu Sayyaf untuk membebaskan 10 WNI yang disandera kelompok tersebut. Hal itu untuk menghentikan kebiasaan teroris menyandera orang untuk meminta tebusan seperti yang dilakukan terhadap kru kapal Indonesia dan Malaysia.

lowongan pekerjaan
PT.ARUTAMA BUMI STILINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Solusi Kemanusiaan untuk Jerusalem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/12/2017). Esai ini karya Mudhofir Abdullah, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah mudhofir1527@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pernyataan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel yang…