JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto Simpatisan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) berkonvoi dengan sepeda motor dan mobil saat menghadiri peingatan Hari Kelahiran (Harlah) PPP ke-42 di Stadion Kridosono Yogayakarta, Minggu (12/04/2015). Ribuan simpatisan yang hadir tidak hanya dari wilayah DI. Yogyakarta, namun dari berbagai daerah di Jawa Tengah. JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto Simpatisan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) berkonvoi dengan sepeda motor dan mobil saat menghadiri peingatan Hari Kelahiran (Harlah) PPP ke-42 di Stadion Kridosono Yogayakarta, Minggu (12/04/2015). Ribuan simpatisan yang hadir tidak hanya dari wilayah DI. Yogyakarta, namun dari berbagai daerah di Jawa Tengah.
Rabu, 20 April 2016 09:40 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

TEWASNYA SIMPATISAN PPP
Polisi Periksa Delapan Saksi

Polisi kembali memeriksa dua orang saksi pada Selasa (19/4), setelah pada Senin (18/4) ada enam saksi yang dimintai keterangan.

 

 

 

Solopos.com, SLEMAN – Polres Sleman terus mengembangkan penyelidikan untuk mengungkap tewasnya Didin Suparyanto, 17, simpatisan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) karena dilempar bahan peledak. Polisi kembali memeriksa dua orang saksi pada Selasa (19/4/2016), setelah pada Senin (18/4/2016) ada enam saksi yang dimintai keterangan.

Kapolres Sleman AKBP Yuliyanto menjelaskan, proses penyelidikan kasus tersebut hingga kemarin masih berjalan. Berbagai keterangan digali petugas untuk mendapatkan petunjuk yang dapat mengarahkan ke pihak pelaku. Menurutnya, belum ada petunjuk signifikan yang bisa mengarahkan ke pelaku. “Belum ada kesimpulan [mengarah ke siapa pelakunya]. Semua anggota saat ini masih di lapangan, beri kami waktu untuk mengungkap,” ungkap mantan Kapolres Kulonprogo ini, Selasa (19/4/201609).

Sebelumnya, simpatisan PPP bernama Didin Suparyanta, 17, warga Bolawen, Tlogoadi, Mlati, Sleman dan Pulung Sunggoro, 21, warga Jaten, Sendangadi, Mlati dilempar bahan peledak oleh orang tak dikenal saat pulang dari mengikuti acara Tabligh Akbar PPP, Minggu (17/4). Peristiwa itu membuat Didin tewas di lokasi kejadian. Tim Labfor Mabes Polri bersama Polda DIY melakukan olah TKP ulang pada Senin (18/4). Petugas menemukan jelaga, mesiun dan serpihan kertas, kain di tubuh korban maupun sekitar TKP. Polisi menduga pelaku menggunakan bom berdaya ledak rendah. Rekaman CCTV dari salahsatu tempat usaha di sekitar TKP telah diamankan petugas.

Kasat Reskrim Polres Sleman AKP Sepuh Siregar menambahkan, pihaknya kembali memeriksa dua orang saksi lagi pada Selasa (19/4). Mereka berasal dari pengendara yang melintas saat di sekitar TKP. Pemeriksaan dilakukan untuk menambah keterangan dari saksi sebelumnya. Sehingga total ada delapan saksi yang dimintai keterangan. Tetapi, kata dia, pencarian saksi tidak berhenti pada delapan orang itu saja. Pihaknya berupaya mencari saksi lain untuk mengumpulkan bahan dan keterangan sebanyak-banyaknya. “Hari ini ada tambahan dua saksi jadi total delapan,” ujarnya.

Senada dengan atasannya, Sepuh juga mengaku belum ada kesimpulan yang mengarah ke terduga pelaku. Meski tidak menetapkan target kapan terungkap, namun Sepuh berjanji mengungkap kasus itu secepatnya karena menjadi perhatian masyarakat. “CCTV sudah kami teliti juga dan nanti akan dijadikan pedoman dalam ungkap kasus,” tegasnya

LOWONGAN PEKERJAAN
QUALITY CONTROL & ADMIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…