Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menabur bungi di makam Siyono, warga Dukuh Brengkungan, Desa Pogung, Cawas, Rabu (30/3/2016). PP Muhammadiyah siap melakukan advokasi terhadap istri Siyono, Suratmi, beserta keluarganya. (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Rabu, 20 April 2016 14:50 WIB John Andhi Oktaveri/Antara/JIBI Hukum Share :

PENGGEREBEKAN DENSUS 88
Kapolri: Siyono Panglima Jamaah Islamiyah, Melawan Densus Dalam Mobil

Penggerebekan Densus 88 yang berujung kematian Siyono terus jadi kontroversi. Bahkan Siyono disebut Kapolri sebagai salah satu panglima Jamaah Islamiyah.

Solopos.com, JAKARTA — Polri masih kukuh menyatakan tak ada yang salah dengan penangkapan Siyono. Kapolri Badrodin Haiti mengatakan Siyono merupakan salah satu panglima dalam jaringan Jamaah Islamiyah yang menyimpan informasi tentang senjata-senjata milik jaringan tersebut.

“Siyono ditangkap setelah pengembangan dari penangkapan anggota jaringan sebelumnya oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror,” kata Badrodin dalam rapat bersama Komisi III DPR di Jakarta, Rabu (20/4/2016).

Badrodin mengatakan Jammah Islamiyah merupakan kelompok jaringan yang berbaiat kepada Al Qaidah. Dalam perjuangannya, Jamaah Islamiyah mengubah struktur dengan nama-nama baru.

Badrodin mengakui ada prosedur tetap (protap) operasional yang dilanggar Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror dalam penanganan terduga teroris Siyono yang tewas setelah ditangkap. “Anggota yang menangani dan komandannya saat ini sedang diperiksa dan menjalani sidang disiplin karena ada kelalaian,” kata Badrodin.

Kapolri mengatakan prosedur standar operasional yang dilanggar anggota dalam penanganan Siyono adalah soal pengawalan. Siyono hanya dikawal oleh satu orang yang seharusnya lebih dan dia dalam keadaan tidak diborgol. Menurutnya, sudah ada peraturan Kepala Polri yang mengatur prosedur pengawalan terhadap terduga teroris.

“Saat itu, Siyono tidak diborgol agar bersikap kooperatif saat dibawa untuk mengembangkan informasi. Namun, saat di mobil dalam perjalanan di perbatasan antara Klaten dan Prambanan, Siyono menyerang anggota,” ujarnya. Baca juga: Tak Boleh Didampingi Kuasa Hukum, Ayah Siyono Enggan Bersaksi.

Badrodin mengakui perkelahian dan pergumulan di dalam kendaraan tidak terhindarkan. Selain memukul, Siyono terus berusaha menendang dan merebut senjata milik anggota yang mengawal. Baca juga: Hasil Autopsi: Luka Fatal di Dada & Tak Ada Tanda Perlawanan Siyono!

Tendangan Siyono bahkan mengenai kepala pengemudi sehingga kendaraan berjalan oleng dan sempat menabrak pembatas jalan. Anggota yang mengawal akhirnya berhasil melumpuhkan Siyono yang terduduk lemas.

“Siyono kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda DIY yang kemudian dinyatakan sudah meninggal dunia. Dari hasil pemeriksaan luar, ditemukan memar di kepala sisi kanan belakang, pendarahan di bawah selaput otak dan tulang rusuk patah akibat benda tumpul,” katanya.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…