Sejumlah orang gila telantar yang dibina Griya PMI Peduli beraktivitas di lokasi setempat, Jumat (26/6/2015). Ada 111 pasien yang menjalani pemulihan di Griya PMI saat ini. (Chrisna Chanis Cara/JIBI/Solopos/dok)
Rabu, 20 April 2016 02:30 WIB Ayu Abriyani K.P./JIBI/Solopos Solo Share :

MASALAH SOSIAL SOLO
Antisipasi Sindikat, PMI Selektif Terima Orang Telantar

Masalah sosial Solo untuk mengantisipasi sindikat oran, PMI lebih selektif terima orang telantar.

Solopos.com, SOLO – Pengelola Griya Palang Merah Indonesia (PMI) Solo kini lebih selektif menerima orang telantar. Sebab, belum lama ini muncul kecurigaan adanya sindikat penelantaran orang dari luar Pulau Jawa.

Hal itu diungkapkan Kepala Bagian Pelayanan Sosial Griya PMI, dr. Gatot Adi Yanuar, saat ditemui solopos.com di Griya PMI Solo, Selasa (19/4/2016). Menurutnya, kecurigaan itu muncul setelah beberapa waktu lalu ada beberapa orang yang mengaku dari wilayah Sumatra mengantar dua orang yang dianggap gangguan jiwa.

Mereka hendak menitipkan dua orang tersebut ke Griya PMI. Namun, Gatot tidak langsung percaya karena orang telantar yang diterima PMI harus dengan rekomendasi dari instansi terkait seperti Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) atau Dinas Sosial dari daerah asal. Nantinya, PMI juga akan mengecek kebenarannya.

“Kami tidak mau niat baik untuk menolong sesama dimanfaatkan orang yang tidak bertanggungjawab. Jadi kami lebih selektif dalam menerima orang telantar. Kalau tidak ada surat rekomendasi dan asal usulnya tidak jelas akan kami tolak,” katanya.

Selain keterangan yang tidak jelas, Gatot juga menyatakan jika beberapa orang pengantar dari luar Jawa tersebut siap membayar uang dalam jumlah besar agar bisa menitipkan dua orang itu di PMI. Ia pun makin curiga mengapa mereka begitu memaksakan diri padahal sudah ditolak.

Bahkan, saat Gatot menanyai dua orang yang dibawa ke Griya PMI itu, mereka bisa diajak berkomunikasi. Hanya, lanjut dia, keduanya seperti orang linglung.

“Kami curiga di luar Jawa ada sindikat penelantaran orang sehingga ada yang sengaja “dibuang” ke Jawa untuk sebuah kepentingan. Kami tidak ingin terlibat masalah seperti itu sehingga kami tolak,” tuturnya.

Sementara, menurut Gatot, jumlah orang telantar yang dirawat di Griya PMI saat ini ada 127 orang dengan gangguan jiwa dan 36 orang yang merupakan orang lanjut usia (lansia). Mayoritas berasal dari Solo dan merupakan warga miskin.

Salah satu perawat di Griya PMI, Sofi, mengatakan Griya Lansia Bahagia kini banyak dilirik masyarakat yang ingin menitipkan lansia dari keluarganya. Sebab, perawatannya baik dan kesehatannya terjamin.

“Saat ini Griya Lansia Bahagia memang banyak dilirik masyarakat. Bahkan, kami juga banyak menerima laporan dari warga jika ada lansia yang telantar. Ada juga yang ingin menitipkan keluarganya,” katanya, Selasa.

Tapi, lanjut dia, pengelola Griya PMI tetap melakukan seleksi sesuai persyaratan yang telah ditentukan. Di antaranya memiliki kartu identitas atau rekomendasi dari Dinas Sosial atau Satpol PP dan diutamakan warga Solo yang miskin dan telantar.

 

lowongan pekerjaan
Harian Umum SOLOPOS Account Executive, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…