Suasana pintu masuk sisi utara di Terminal Tirtonadi, Solo, Senin (29/6/2015). Penggunaan cat warna merah muda pada dinding terminal merupakan salah satu strategi visual untuk memberikan kesan lembut terminal saat menyambut penumpang arus mudik Lebaran 2015. (JIBI/Solopos/Ivanovich Aldino) Suasana pintu masuk sisi utara di Terminal Tirtonadi, Solo, Senin (29/6/2015). Penggunaan cat warna merah muda pada dinding terminal merupakan salah satu strategi visual untuk memberikan kesan lembut terminal saat menyambut penumpang arus mudik Lebaran 2015. (JIBI/Solopos/Ivanovich Aldino)
Rabu, 20 April 2016 15:40 WIB Indah Septiyaning W/JIBI/Solopos Solo Share :

INFRASTRUKTUR SOLO
Lelang Proyek Sky Brigde Tirtonadi-Balapan Dipercepat, Ini Alasannya

Infrastruktur Solo, pemerintah mempercepat proses lelang proyek sky brigde.

Solopos.com, SOLO–Proyek pembangunan jalur integrasi antarmoda penghubung (sky brigde) Terminal Tirtonadi dan Stasiun Balapan menelan anggaran Rp21,5 miliar, molor dari rencana dibangun bulan ini.

Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) memastikan proyek sky brigde akan dikerjakan Mei mendatang. Kepala Dishubkominfo Solo, Yosca Herman Soedrajat mengatakan, saat ini pemerintah pusat tengah mempercepat proses lelang sky brigde.

“Kami hitung paling lambat akhir Mei proyek baru dikerjakan dengan jangka waktu enam bulan kedepan,” kata Herman, sapaan akrabnya ketika dijumpai wartawan di Balai Kota, Rabu (20/4/2016).

Herman mengatakan ada sejumlah perubahan desain dalam perencanaan pembangunan sky brigde menyesuaikan permintaan Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo. Beberapa perubahan itu di antaranya kondisi atap bangunan yang semula didesain miring, diganti lurus. Begitu pula dengan lebar jalan penghubung diminta dimaksimalkan tiga meter, tidak 2,7 meter seperti desain sekarang.

“Lebar jalan 2,7 meter, karena termakan pancang bangunan. Jadi nanti pancang bangunan kita pakai satu, tidak dua seperti digambar,” terang Herman.

Herman mengatakan, pembangunan sky brigde total menelan anggaran Rp21,5 miliar. Proyek itu akan membangun jembatan sebagai jalur penghubung terminal dan stasiun dengan panjang 460 meter. Jalur penghubung dibangun mengikuti jalan yang berada di bawahnya. Berdasar pemetaan, Herman mengatakan terdapat dua rumah warga yang bakal terdampak pembangunan sky brigde. Jalan layang akan melewati bagian atas dua hunian tersebut. Nantinya selama pembangunan, dua keluarga akan diungsikan ke lokasi lain sampai proyek rampung dikerjakan. “Nanti akan disediakan tempat sementara buat mereka,” katanya.

Sejauh ini, Herman mengaku telah menyosialisasikan pembangunan jalur integrasi antarmoda ke masyarakat sekitar. Herman mengatakan integrasi Terminal Tirtonadi dengan Stasiun Balapan akan menjadi proyek percontohan nasional. Konsep pengembangan Terminal Tirtonadi mengadopsi sejumlah negara maju yang nantinya bakal terintegrasi dengan pusat bisnis dan perhotelan.

“Saat ini juga tengah disusun master plan Stasiun Balapan yang akan terintegrasi dengan Bandara Adisumarmo,” katanya.

Wali Kota F.X. Hadi Rudyatmo mengatakan pembangunan jalan penghubung Terminal Tirtonadi dan Stasiun Balapan bukan sekadar proyek infrastruktur. Melainkan, penyediaan fasilitas perhubungan kepada masyarakat, sehingga Pemkot berharap warga tidak perlu memikirkan berapa kompensasi yang akan diterima atas dibangunnya jalur itu.

lowongan pekerjaan
SPG COUNTER BATIK & SALES COUNTER CAR RENTAL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL TERIOS TS’2008,Mulus/Gagah R18,Comp AC Baru,Silver,125JtNego, Hub=085640166830 (A001…
  • LOWONGAN CR SALES Konveksi,Wanita,Usia 24-38Th,Gaji Pokok+Uang Makan+Bensin+Bonus.Hub:DHM 082134235…
  • RUMAH DIJUAL DIJUAL RUMAH Sederhana,Jl,Perintis Kemerdekann No.50(Utara Ps.Kabangan)L:12×7 Hub:081…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Rabun...

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (11/9/2017). Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Penelitian dan Pengembangan Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO — Judul esai saya ini saya adopsi dari terminologi Profesor Theodore Levitt tentang marketing myopia atau…