Ilustrasi kios pasar tradisonal yang dibiarkan mangkrak oleh pedagang pemegang hak gunanya. (JIBISolopos/Antara) Ilustrasi kios pasar tradisonal yang dibiarkan mangkrak oleh pedagang pemegang hak gunanya. (JIBISolopos/Antara)
Rabu, 20 April 2016 00:30 WIB Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos Sragen Share :

DUGAAN PENJUALAN ASET
Dua Terdakwa Kasus Pasar Gondang Sragen Dituntut 17 Bulan Penjara

Dugaan penjualan aset, JPU menuntut dua terdakwa kasus penjualan kios Pasar Gondang 17 bulan penjara.

Solopos.com, SRAGEN–Dua terdakwa kasus jual beli empat kios Pasar Gondang dituntut 17 bulan penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang.

Dua terdakwa tersebut adalah mantan Lurah Pasar Gondang, Sugito, 57, warga Dusun Genting, RT 016, Desa Ngarum, Ngrampal, Sragen dan Ketua Paguyuban Pedagang, Sugiyanto, 49, warga Dusun Gondang Tani, RT 017, Desa/Kecamatan Gondang, Sragen. ”Sugito dan Sugiyanto kami tuntut dihukum satu tahun, lima bulan [17 bulan]. Keduanya juga wajib membayar denda Rp50 juta, subsider tiga bulan kurungan penjara,” jelas Jaksa Srikanah saat ditemui wartawan di Sragen, Selasa (19/4/2016).

Sidang dengan agenda pembacaan tuntutan dari JPU itu digelar di Pengadilan Tipikor Semarang pada Rabu (13/4/2016) lalu. Hal-hal yang memberatkan, kata Srikanah, tindakan kedua terdakwa tidak sejalan dengan upaya pemerintah untuk menanggulangi atau memberantas tindak pidana korupsi. Sementara hal yang meringankan, kedua terdakwa sudah mengembalikan kerugian negara. ”Meski sudah mengembalikan, proses hukum tetap jalan. Hal lain yang meringankan adalah keduanya belum pernah dihukum penjara,” papar Srikanah.

Bersama dengan mantan Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Sragen, Nonok Sudjiono, kedua terdakwa dianggap menyalahgunakan kewenangan dalam menjual kios Pasar Gondang nomor 53, 54, 55 dan 56. Perbuatan terdakwa bertentangan dengan Pasal 33 Ayat (7) Permendagri No. 17/2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah yang menyebutkan hasil penerimaan jual beli kios harus diserahkan ke kas daerah.

Pasal 7 Peraturan Bupati (Perbup) No. 1/2012 tentang Retribusi Jasa Umum menyebutkan pengalihan hak guna kios pasar kepada orang lain dipungut biaya sebesar 1% dari nilai jual objek. Pasal 55 dan 56 Peraturan Pemerintah (PP) No. 27/2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah menyebutkan penjualan tanah dan/bangunan diusulkan oleh bupati melalui persetujuan DPRD.

Akibat perbuatan terdakwa, Pemerintah Kabupaten Sragen mengalami kerugian Rp573.200.000 berdasar audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jawa Tengah. Kedua terdakwa dijerat dengan Pasal 2 Ayat (1) jo. Pasal 18 Ayat (1) huruf a dan b UU No. 31/1999 yang diubah dengan UU No. 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Ditemui terpisah, Kasi Pidana Khusus, Moh. Yasin Joko Pratomo, menegaskan otak dari kasus dugaan korupsi jual beli kios Pasar Gondang bukanlah kedua terdakwa, melainkan Nonok Sudjiono yang kini sudah dilorot jabatannya menjadi staf ahli bupati.

“Nonok sudah ditetapkan sebagai tersangka, namun berkas perkaranya masih dilengkapi oleh penyidik [Polres Sragen],” terang Yasin.

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…