Daffa Daffa Farros Oktoviarto menunjukkan piagam penghargaan dari Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, di SD Kalibanteng Kidul 01, Kecamatan Semarang Barat Jl. W.R. Supratman, Rabu (20/4/2016). (Insetyonoto/JIBI/Semarangpos.com) Daffa Daffa Farros Oktoviarto menunjukkan piagam penghargaan dari Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, di SD Kalibanteng Kidul 01, Kecamatan Semarang Barat Jl. W.R. Supratman, Rabu (20/4/2016). (Insetyonoto/JIBI/Semarangpos.com)
Rabu, 20 April 2016 21:50 WIB Insetyonoto/JIBI/Semarangpos Semarang Share :

BOCAH CEGAT PEMOTOR
Netizen Semarang Ada yang Tak Setuju Cara Daffa

Bocah cegat pemotor, Daffa belakangan menjadi trending topic di media sosial.

Solopos.com, SEMARANG – Netizen Semarang berbeda pendapat menyikapi langkah Daffa Farros Oktaviarto, 9, siswa Kelas IV SDN Kalibanteng Kidul 01 Semarang yang mengadang pengendara sepeda motor yang melintas di trotoar.

Mereka ada yang memberikan dukungan atas keberanian bocah tersebut, tapi sebagian besar menyayangkan cara yang dilakukan Daffa yang cenderung menggunakan kekerasan.

Pro kontra ini terungkap saat netizen menanggapi Aryo Mf yang membagikan kiriman video Imam B. Prasojo di Group Facebook Media Informasi Kota Semarang (MIK Semar), Selasa (19/4/2016) malam.

“Ketika yang tua dikoreksi anak-anak,” tulis Imam B. Prasojo yang dibagikan pengguna akun Facebook Aryo Mf beserta video
aksi Daffa saat mengadang pria dewasa yang mengendarai sepeda motor di trotoar kawasan Kaliabanteng, Semarang.

Saat Semarangpos.com membuka video tersebut, Daffa mangadang pengendara sepeda motor tersebut dengan merangsak maju dengan menendang roda depan sepeda motor, meski si pengendara tersebut telah mundur.

“Wah kalau gayanya begini, saya kok tidak setuju, kayak preman, sudah mundur ya sudah to. Diapresiasi satu hal, dikasih tahu hal-hal yang tidak pantas juga,” tulis pengguna akun Facebook Pang Henky Elegance Furniture.

Menurut pengguna akun Facebook Jimmie Kurniawan cara dan tindakan anak kecil mengusir dengan cara-cara seperti ini (kekerasan) tanpa diberi pengertian dan pemahaman yang baik dan benar adalah tidak mendidik.

“Semoga kelak tidak menjadi arogan dan semena-mena. Kabar-kabarnya nya akan di respon dan diberi penghargaan oleh pak Wali [Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi]. Semoga saja dibatalkan. Mestinya si anak pemrotes ini diajari dan diarahkan untuk melaporkannya kepada pihak-pihak yang berwenang seperti Dishub [Dinas Perhubungan] atau Polantas [Polisi Lalulintas],” tulis Jimmie panjang lebar.

”Kalau caranya mengoreksi seperti ini ya selamat datang generasi kekerasan yang baru,” tulis pengguna akun Facebook Widya Wijayanti.

Pengguna akun Facebook Suwarti Sutomo menyarankan agar Daffa tidak menggunakan kekerasan. ”Kasihan adik Daffa kelakuanya kok arogan begitu, kalau besar gimana tu. Sebainya adik Dafa menggunakan cara yang lebih baik supaya bisa dicontoh teman-temannya,” tulis dia.

Namun, pengguna akun Facebook Arga Suharto memberikan dukungan terhadap Daffa. ”Anak kecil saja sudah mau peduli dengan caranya sendiri benar atau salah tergantung peresepsi masing-masing. Salut adik Daffa, dilanjut,” tulisnya.

Dukungan terhadap Daffa juga diberikan pengguna akun Facebook,
Simbul Adalah Gatotkaca. ”Buat yang komentar negatif, apa yang sudah Anda lakukan untuk menegakkan aturan? atau anda hanya diam saja. Ini anak kecil, tanpa ada pengertian lebih, berarti caranya ya anak kecil. Bagi yang sudah dewasa jangan cuma komentar negatif,” tulis dia.

”Salut dengan keberanianya, hanya sedikit orang yang seperti dia [Daffa], mempertaruhkan dirinya untuk kebenaran,” tulis pengguna akun Facebook Ganung Aristakus Edi Manubawa.

lowongan pekerjaan
PT. INDUKTURINDO UTAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…