Petugas pelestarian purbakala menunjukkan temuan pecahan tulang tengkorak manusia diduga berasal dari zaman Kerajaan Singasari pada 1.058 tahun saka atau 1.136 Masehi di Desa Pulotondo, Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (19/4/2016). (JIBI/Solopos/Antara/Destyan Sujarwoko)
Rabu, 20 April 2016 15:05 WIB JIBI/Solopos/Antara Madiun Share :

BENDA BERSEJARAH TULUNGAGUNG
Pecahan Tengkorak Ditemukan di Sungai Brantas, Diduga dari Zaman Singasari

Benda bersejarah Tulungagung berupa tengkorak yang diduga dari zaman klasik ditemukan di bantaran Sungai Brantas.

Solopos.com, TULUNGAGUNG – Penambang pasir menemukan benda bersejarah di di bantaran Sungai Brantas, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Temuan itu berupa pecahan tulang tengkorak manusia zaman klasik (sejarah kuno) yang diduga berasal dari masa Kerajaan Singasari, sekitar 1.058 tahun saka atau 1.136 Masehi.

“Itu masih dugaan awal mengacu temuan situs ambang pintu terbuat dari batu yang bertuliskan 1.058 tahun Saka, tak jauh dari lokasi temuan tengkorak,” kata Kepala Museum Etnografi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Toetik Koesbardiyati, ketika berkunjung di Tulungagung, Selasa (19/4/2016).

Toetik yang juga dosen jurusan Antropologi Unair datang ke Tulungagung bersama tiga mahasiswa Antropologi ke lokasi temuan tengkorak bersejarah tersebut.

Rencananya, kata Toetik, tim yang dia bawa akan menjajaki kemungkinan melakukan eskavasi sejumlah tengkorak maupun kerangka lain yang masih terpendam, atau sudah pernah ditemukan warga namun dikubur lagi karena alasan mitos kuno.

“Tapi lokasi di mana ada sekitar tiga tulang tengkorak katanya dipendam lagi oleh warga, saat ini masih terendam luberan air Sungai Brantas sehingga tidak mungkin dilakukan penggalian,” ungkap dia.

Tim antropologi Unair kembali ke Surabaya dengan membawa satu pecahan tulang tengkorak yang lebih dulu diselamatkan oleh warga dan diserahkan ke Museum Daerah Wajakensis, Tulungagung.

Menurut Toetik, tulang tengkorak yang hanya menyisakan bagian belakang utuh sementara bagian muka telah hilang itu akan diteliti dengan teknologi identifikasi DNA untuk mengetahui usia tengkorak dan struktur marfologi benda sejarah tersebut.

“Temuan ini penting dari sisi akademis, karena dengan temuan tengkorak zaman sejarah atau masa klasik ini bisa mengisi potongan evolusi marfologi manusia dari zaman prasejarah, masa klasik hingga sekarang menjadi manusia modern seperti sekarang,” kata Toetik.

Kasi Pelestarian Purbakala dan Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tulungagung Tri Nugraha mengatakan ada sekitar lima tengkorak yang ditemukan warga di sekitar bantaran Sungai Brantas, Desa Pulotondo, Kecamatan Ngunut.

“Ditemukan sekitar dua pekan lalu oleh para penambang pasir tapi kemudian dipendam lagi karena takut dengan hal-hal mistis yang diyakini masyarakat sekitar,” ujar dia.

Ia mengonfirmasi sebelum penemuan tengkorak pihaknya sempat menemukan beberapa situs seperti sumur kuno serta ambang pintu terbuat dari batu dengan usia tertera tahun 1.058 tahun Saka atau 1.136 Masehi.

“Tim BPCB [Balai Purbakala dan Cagar Budaya] Jatim juga telah ke sini untuk meneliti temuan warga dan mengonfirmasi berdasar tulisan pada situs ambang pintu berasal dari zaman prabu Jayabaya Kerajaan Singasari,” ujar dia.

lowongan pekerjaan
NUSANTARA SAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…