Pelabuhan Pendaratan Ikan Lampulo, Aceh, Kamis (19/3/2015). (JIBI/Solopos/Antara/Irwansyah Putra) ilustrasi (JIBI/dok)
Selasa, 19 April 2016 13:25 WIB JIBI/Solopos/Antara Peristiwa Share :

REKLAMASI TELUK JAKARTA
Nelayan Tradisional Kirimkan Ikan Teluk Jakarta kepada Ahok

Reklamasi Teluk Jakarta mendapat pro dan kontra dari masyarakat.

Solopos.con, JAKARTA – Nelayan tradisional Teluk Jakarta akan mengirimkan hasil tangkapan di sekitar Pulau G reklamasi kepada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama guna membuktikan profesi mereka sebagai penangkap ikan dan masih ada ikan di Teluk Jakarta.

Aksi protes ini mereka tunjukkan setelah Ahok meragukan mereka yang menggelar aksi damai menyegel Pulau G pada Minggu (17/4/2016) bukan nelayan Teluk Jakarta. Untuk itu mereka juga menunjukkan KTP dengan keterangan profesi nelayan.

“Ketika nelayan di Teluk Jakarta menyegel Pulau G, Bapak Gubernur DKI membuat pernyataan itu bukan nelayan. Silakan lihat, saya sebagai nelayan, bersama nelayan, dan semua ber-KTP DKI yang tertulis profesi nelayan,” kata Kuat Wibisono, Sekretaris Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) di Jakarta, Selasa (19/4/2016).

Kuat menyayangkan Ahok tidak percaya bahwa penyegelan adalah reaksi nelayan atas polemik reklamasi Teluk Jakarta yang kini sedang mengemuka.

“Kami sangat sedih areal tangkapan ikan kami dijadikan daratan,” tambah Kuat.

Nelayan juga menujukkan hasil tangkapan ikan yang didapat dari Pulau C, D dan G berupa aneka jenis ikan laut dan kepiting rajungan.

“Kata siapa tidak ada ikan di Teluk Jakarta? Ini buktinya,” kata Suwali yang mengaku menangkap ikan selama tiga jam.

Anggota Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta, Moestaqiem Dahlan, pun menyebutkan aksi ini sebagai bentuk pembuktian nelayan bahwa di Teluk Jakarta masuh ada ikan.

“Ini bukti dari nelayan kalau pantai Teluk Jakarta bisa untuk mencari ikan,” kata Moestaqiem.

Selain ikan, nelayan membawa keramba dan jaring yang masih terdapat ikan sebagai bukti hasil tangkapan mereka.

lowongan pekrajaan
Yayasan Internusa Surakarta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…