Para aparat Satpol PP Sragen memindahkan tubuh Suparjo, 70, gelandangan asal Ngawi, dari bak truk ke amben beroda di depan UGD RSUD Soehadi Prijonegoro Sragen, Senin (18/4/2016). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Selasa, 19 April 2016 07:25 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

RAZIA SRAGEN
Duh, Tuna Wisma Asal Ngawi Bakar Kakinya Sendiri

Razia Sragen dilakukan terhadap para gelanggangan.

Solopos.com, SRAGEN – Truk Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) berhenti di depan Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Soehadi Prijonegoro Sragen. Empat orang aparat Satpol PP turun dari truk warna cokelat tua itu.

Sosok lelaki tua duduk di lantai bak truk bersandar kursi permanen. Pakaiannya kumal. Bau pesing bercampur keringat menyeruak. Wajahnya keriput. Dagunya terbungkus rambut tebal yang rata hingga ke telinga.

Tangan kirinya mencengkeram kuat besi kursi saat dua aparat Satpol PP mengangkat. Laki-laki itu ingin berontak kepada aparat yang mengevakuasinya dari emperan toko kelontong di sebelah timur simpang empat Pilangsari, Ngrampal, Sragen, Senin (18/4/2016) siang.

Aparat Satpol PP mendapat laporan ada gelandangan tidur di emperan toko selama tiga hari.

Suparjo, 70, demikian nama orang tua itu. Dengan usaha maksimal, dua petugas Satpol PP bisa memindahkan Suparjo dari bak truk ke amben beroda yang disiapkan petugas UGD di belakang truk. Tubuhnya gemetar seperti orang ketakutan.

Suparjo hanya pasrah dibawa dua perawat menuju ruang transit di UGD. Ruang itu terpisah dengan ruang transit untuk pasien UGD lainnya.

Ia tertidur membujur ke utara. Kaki kirinya ditekuk. Terlihat kelima jari kakinya sudah tak berkuku. Kaki kanannya direbahkan tak beraturan. Luka kering terlihat pada ujung jempol kakinya. Ine Marliah, Kasi Pelayanan, Rehabilitasi Sosial, Tuna Susila dan Korban Napza Dinas Sosial (Dinsos) Sragen, datang bersama rombongan Dinsos dan beberapa aparat Satpol PP.

“Mbah, punya anak tidak? Cucu ada tidak? Sudah berapa lama meninggalkan rumah,” tanya Ine.

Suparjo tak ingat nama kedua anaknya. Ia hanya ingat nama Sugiyanto, putra sulungnya. Tetapi dimana rimbanya pun tak tahu. Ia juga ingat nama Sumini, istrinya, yang meninggal dunia bertahun-tahun lalu.

“Saya punya rumah tetapi tidak bekerja lagi. Saya mau mencari kerja. Boleh minta korek api?” ujar Suparjo meyakinkan Ine.

Ine tak begitu saja percaya dengan pengakuan Suparjo. Perempuan itu menyampaikan tujuan Dinsos dan Satpol PP membawanya ke RSUD untuk diobati.

Ine justru curiga dengan permintaan Suparjo. Ternyata korek api yang diminta Suparjo digunakan untuk membakar luka di ujung jempol kananya agar kering. Kuku di lima jari kaki kirinya hilang itu diduga akibat luka yang kemudian dibakar dengan korek api.

“Sudah mbah. Pokoknya simbah dirawat di sini. Diobati biar kakiknya sembuh. Simbah harus manut biar cepat sembuh. Nanti kalau sudah sembuh simbah diantar ke panti untuk dihidupi negara sampai ajal menjemput. Begitu ya Mbah!” ujar Ine.

Mendengar penjelasan Ine, Suparjo langsung bersyukur Alhamdulillah. Air matanya meleleh seraya menyebut asma Allah. Ia merasa doanya dikabulkan Tuhan setelah beberapa hari menderita. Dengan kata terbata-bata, Suparjo menyampaikan terima kasih kepada Ine.

Semua pesan Ine diterima Suparno dengan menganggukan kepala. Suparjo pun menyampaikan salam setelah ditinggal rombongan Dinsos dan Satpol PP.

Suparjo diketahui tinggal di Widodaren, Kecamatan Mantingan, Ngawi. Namun alamat itu masih diselidiki Ine dan teman-temannya. Ine juga akan melacak anak dan cucu atau anggota keluarganya. Ine berniat meminta keterangan Suparjo setelah dinyatakan sembuh oleh dokter.

Anggota staf Operasional dan Pengendalian Satpol PP Sragen, Agus Warsito, mengaku sering mendapat laporan gelandangan, orang gila, dan pengemis. Agus dan Ine juga pernah menangangi orang gila bernama Robert Kemis pada Kamis (14/4/2016) lalu.

“Orang gila itu lebih parah lagi dari gelandangan itu. Bajunya rangkap lima dan baunya luar biasa. Orang gila itu kami mandikan dan kemudian dibawa ke RSJ [Rumah Sakit Jiwa] Solo. Kami sering mendapat laporan seperti tu. Dua pekan terakhir, kami sudah mengevakuasi tiga orang gelandangan dan orang gila,” imbuhnya.

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…