Waduk Pacal Bojonegoro yang dikembangkan sebagai objek wisata baru di Bojonegoro. (JIBI/Solopos/Antara/Slamet Agus Sudarmojo) Waduk Pacal Bojonegoro yang dikembangkan sebagai objek wisata baru di Bojonegoro. (JIBI/Solopos/Antara/Slamet Agus Sudarmojo)
Selasa, 19 April 2016 11:05 WIB JIBI/Solopos/Antara Madiun Share :

PENGAIRAN BOJONEGORO
Air Waduk Pacal Dikeluarkan 3 M3/detik, Ini Tujuannya

Pengairan Bojonegoro salah satunya disuplai oleh air Waduk Pacal.

Solopos.com, BOJONEGORO – Selama dua pekan terakhir, air Waduk Pacal di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dikurangi melalui pintu pengeluaran sekitar 3 meter kubik per detik. Hal itu untuk menjaga debit air tidak maksimal.

Kasi Pengelolaan Pemanfaatan Sumber Air Dinas Pengairan Bojonegoro Dodi Sigit Wijaya di Bojonegoro, Senin (18/4/2016), mengatakan selain untuk mengurangi debit air, pengeluaran air juga untuk mencukupi kebutuhan tanaman padi di daerah irigasi.

“Tanaman padi di daerah hilir, di wilayah timur, di sejumlah desa di Kecamatan Sumberrejo dan Kanor, masih membutuhkan air, sebab kondisi tanaman padinya sedang berbuah,” ujar dia.

Namun, menurut dia, tanaman padi di daerah hulu, di sejumlah desa di Kecamatan Sukosewu, Kapas dan Balen, sudah panen.

Tapi, petani di daerah hulu dengan luas sekitar 3.500 hektare, sudah bersiap-siap menanam padi musim tanam (MT) II.

Data di kantor Dinas Pengairan, Waduk Pacal memiliki daerah irigasi pertanian seluas 16.688 hektare di sejumlah desa di Kecamatan Sukosewu, Balen, Kapas, Sumberrejo, Kepohbaru, dan Baureno.

“Pengeluaran air Waduk Pacal sekitar 3 meter kubik per detik masih akan terus berlangsung, sebab untuk mencukupi tanaman padi di daerah hulu yang baru mulai akan menanam padi lagi,” ungkap dia.

Sesuai data, katanya, ketinggian air di Waduk Pacal di Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang, mencapai 114,30 meter dengan debit mencapai 20,028 juta meter kubik.

Pengawas Waduk Pacal UPT Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro Munadji menambahkan air Waduk Pacal harus dipertahankan 113,50 meter, sebagai usaha menjaga agar tidak merusak bangunan pelimpas.

Bangunan pelimpas waduk, katanya, pernah jebol disebabkan banjir bandang, tapi perbaikannya belum permanen.

“Sekarang ini air Waduk Pacal, tidak mengalir melalui saluran pelimpas, tapi dikeluarkan melalui saluran pengeluaran menuju saluran irigasi utama,” jelas dia.

Pada awal dibangun Belanda pada 1933, Waduk Pacal mampu menampung air mencapai 42 juta meter kubik, namun sekarang daya tampungnya menurun drastis, disebabkan sedimen yang masuk waduk mencapai 15 ribu meter kubik per tahun, juga pengaruh rusaknya bangunan pelimpas.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…