Salah seorang pedagang di Pasar Triwindu Solo, Jaryanti, 51, menunggu calon pembeli di kiosnya, Senin (18/4/2016). Kondisi pasar itu sepi pada April 2016. (Ivan Andimuhtarom/JIBI/solopos)
Selasa, 19 April 2016 13:15 WIB Ivan Andimuhtarom/JIBI/Koran Solo Solo Share :

PASAR TRADISIONAL SOLO
Pasar Triwindu Sepi, Pedagang: Kalau Dipikir Bisa Stres

Pasar tradisional Solo, Pasar Triwindu yang sepi pembeli membuat para pedagang merana.

Solopos.com, SOLO – Jaryanti, 51, membuka beberapa koleksi uang kertas dan uang koin lawas yang ia miliki, Senin (18/4/2016) siang. Pedagang di Pasar Triwindu Solo itu sedang bersantai karena tak ada pengunjung di kiosnya. Uang kuno itu adalah sedikit benda yang ia jual.

Ada beragam barang kuno maupun repro yang ada di kios itu seperti beberapa teko dari besi berwarna kombinasi putih-hijau dan putih-biru. Menurutnya, pembeli asal Jepang biasanya memborong teko-teko itu.

“Saya jual murah. Ada yang Rp35.000 dan ada yang Rp50.000, tergantung ukuran,” kata dia saat berbincang dengan Koran Solo, Senin siang.

Ia menuturkan, pasar yang direnovasi total pada 2008 itu sepi pengunjung pada April 2016. Para pengunjung biasa merapaikan pasar pada waktu-waktu tertentu saja. Biasanya, sepinya pasar akan berlanjut hingga Bulan Ramadan (puasa). Pasar diprediksi baru ramai saat Lebaran atau untuk tahun ini pada Juli 2016.

“Biasanya pasar ini ramai kalau libur anak sekolah sama Lebaran,” kata dia.
Dengan kondisi itu, ia mengaku tak bisa menghitung omzet atau laba yang ia peroleh. Ia sekedar menjalankan usahanya dan berharap pembeli datang kemudian membeli barang-barang yang ia jual.

“Ya kalau ada dagangan enggak beli dulu karena enggak ada uang. Pembeli datangnya juga enggak pasti,” terang perempuan yang tinggal di Jajar, Laweyan, Solo itu.

Hal senada diungkapkan pedagang di Pasar Triwindu lainnya, Yoyok, 53. Sudah sepekan terakhir kiosnya sepi pembeli. Lelaki yang sudah 25 tahun berjualan di pasar tersebut tak tahu penyebab sepinya pengunjung. Namun ia menduga, kondisi ekonomi secara keseluruhan yang sedang tak dalam kondisi baik membuat daya beli konsumen menurun.

“Sekarang saya tak bisa menghitung omzet, laba da aset yang saya miliki. Pokoknya ya dikerjakan saja,” kata dia kepada Koran Solo, Senin.
Ia menceritakan pasar yang tak jauh dari Jl. Slamet Riyadi itu pernah berjaya di masa orde baru. Sebanyak 90 persen pembeli adalah turis asing. Tetapi sekarang kondisinya telah berubah 180 derajat. Mayoritas pembeli adalah orang lokal dan nilai pembelian tak terlalu besar.

“Setahu saya, pemerintah [Pemerintah Kota Solo] sudah melakukan banyak promosi. Ya sudah ada beberapa turis yang datang, tapi tak sebanyak dulu. Karena kebanyakan adalah pembeli lokal, mungkin karena ekonomi nasional sedang lesu, mereka juga tak banyak membeli barang dari sini,” terang lelaki yang biasa dipanggil Pak Jenggot itu.

Ia hanya bersabar dan berusaha menerima keadaan itu. Ia beranggapan rezeki belum datang kalau pasar sedang sepi.
“Kalau dipikirkan dan dirasakan, bisa stress,” tutupnya.

 

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…