Warga membongkar rumah milik Sujar yang letaknya paling atas di Dukuh Krajan, Desa Talun, Kecamatan Ngebel, Ponorogo, Senin (18/4/2016) pagi. (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Selasa, 19 April 2016 13:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

LONGSOR PONOROGO
Tanah Terus Bergerak, 2 Rumah di Talun Dibongkar

Longsor Ponorogo tepatnya di Desa Talun, Kecamatan Ngebel, menjadi ancaman serius sehingga dua rumah warga terpaksa dibongkar.

Solopos.com, PONOROGO — Dua rumah warga di Dukuh Krajan, Desa Talun, Kecamatan Ngebel, Ponorogo, dibongkar, Selasa (19/4/2016). Hal itu karena pergerakan di desa setempat diperkirakan akan terus terjadi dalam jangka panjang, sehingga dikhawatirkan memicu longsor.

Pantauan Madiunpos.com di Dukuh Krajan, Senin (18/4/2016), ratusan meter tanah di Desa Talun mengalami retakan sejak beberapa pekan lalu. Retakan tanah yang terjadi di desa tersebut dengan lebar sekitar 50 cm dengan kedalaman hingga 10 meter.

Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo, Hery Sulistyono, mengatakan dua rumah milik warga di Dukuh Krajan akan dibongkar. Keputusan pembongkaran ini karena melihat kondisi tanah yang ditempati sudah tidak aman untuk tempat tinggal.

Hery menyampaikan fenomena tanah merekah di desa tersebut telah terjadi sejak beberapa pekan yang lalu. Namun, kondisi retakan semakin parah pada Minggu (17/4/2016) dan memaksa warga untuk mengungsi di tempat yang dianggap lebih aman.

Dia menyampaikan untuk rencana pembongkaran rumah sendiri dilakukan karena melihat kondisi pergerakan tanah yang semakin besar dan membahayakan penghuni dua rumah tersebut.

“Kedua rumah yang akan dibongkar itu merupakan rumah paling atas di Dukuh Krajan. Sehingga, ketika terjadi getaran, dua rumah itu yang pertama kali merasakan dampaknya,” kata dia saat berbincang dengan Madiunpos.com di lokasi pengungsian di Balai Desa Talun.

Pantauan BPBD Ponorogo pada Senin malam, gerakan tanah juga terus terjadi yang mengakibatkan tanah ambrol setinggi satu meter. Dia menuturkan satu rumah warga memang sudah dirobohkan karena kondisinya sudah tidak memungkinkan.

Sedangkan satu rumah lagi dibongkar pada Selasa. Selain itu, hewan ternak milik warga berupa sapi, kambing, dan lainnya juga dievakuasi dan dicarikan tempat yang lebih aman di dekat balai desa setempat.

Pemilik rumah yang dibongkar, Sujar, 34, mengatakan rumahnya telah dibongkar secara mandiri dengan dibantu beberapa tetangga. Pembongkaran dilakukan karena tanah yang digunakan untuk tempat tinggal itu sudah merekah dan membahayakan keluarganya.

Dia mengatakan rumah tersebut baru selesai dibangun dan baru ditempati sejak empat bulan yang lalu. Tetapi, karena ini untuk keamanan diri dan keluarganya, sehingga rumah tersebut terpaksa dibongkar.

Sujar menyampaikan sudah dua hari mengungsi di balai desa setempat. Warga RT 006/RW 001 ini menambahkan sebenarnya retakan tanah sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu. Namun, getaran paling besar dirasakan pada Minggu.

Saat terjadi pergerakan tanah, dia sering merasakan ada getaran. Kondisi itu membuat diri dan keluarganya takut ketika pergerakan tanah itu menimbulkan tanah longsor.

“Ya mau bagaimana lagi, kalau tinggal di sini terus ya sama saja selalu khawatir dan tidak tenang. Ini juga belum tahu mau pindah ke mana, tetapi yang penting menyelamatkan nyawa terlebih dahulu,” ujar dia.

lowongan pekerjaan
CV MITRA RAJASA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…