Belasan warga terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) asal Dusun Bapangan dan Kepek, Desa Glagah, Temon, menemui Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo di kantornya, Senin (18/4/2016). (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja) Belasan warga terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) asal Dusun Bapangan dan Kepek, Desa Glagah, Temon, menemui Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo di kantornya, Senin (18/4/2016). (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 19 April 2016 13:55 WIB Rima Sekarani/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

BANDARA KULONPROGO
Warga Miskin Minta Dispensasi Relokasi

Bandara Kulonprogo akan merelokasi warga di kawasan yang terdampak

Solopos.com, KULONPROGO- Belasan warga terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) kembali menyampaikan aspirasi dengan menemui Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, Senin (18/4/2016).

Sebagian dari mereka merupakan warga miskin yang berharap mendapatkan dispensasi dalam proses relokasi.

Warga terdampak yang mendatangi Kantor Bupati Kulonprogo kali ini berasal dari Dusun Bapangan dan Kepek, Desa Glagah, Temon. Mereka merasa perlu mendapatkan penjelasan mengenai konsep relokasi, serta jaminan pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan bagi warga terdampak.

“Bingung karena akan ada appraisal turun tapi belum ada kepastian soal relokasi,” kata seorang warga Bapangan, Udiyono.

Udiyono memaparkan, warga siap menerima kedatangan tim appraisal untuk menjalankan tugasnya. Dia lalu mengatakan, warga tetap berharap relokasi dilakukan di tanah kas desa, bukan Pakualaman Ground (PAG). Hal itu karena warga tetap ingin tinggal di Glagah dan memiliki sertifikat hak milik, bukan sekedar magersari.

Warga Bapangan lain, Maryati mengatakan, kebanyakan yang datang hari itu adalah warga miskin. Selama ini mereka bekerja sebagai buruh tani dan tidak punya lahan pertanian sendiri. Mereka bingung akan bekerja dan mendapatkan penghasilan dari mana setelah tergusur pembangunan bandara. Mereka juga merasa sudah tidak begitu produktif untuk mempelajari keterampilan baru.

Maryati kemudian mengaku tidak keberatan untuk membeli lahan relokasi di tanah kas desa. Namun, dia khawatir uang ganti rugi yang bakal didapat tidak akan cukup untuk membeli tanah.

Dia juga tidak punya tabungan tambahan yang bisa dipakai. Jika memang tidak bisa gratis, dia berharap ada harga khusus untuk warga miskin seperti dirinya.

“Setidaknya dapat keringanan. Misalnya harga tanah kas desa nanti Rp1 juta tapi karena warga miskin jadi Rp350 ribu atau berapa,” ujar Maryati.

Menanggapi keluhan warga terdampak, Hasto mengungkapkan, Pemkab Kulonprogo telah berupaya mengantisipasi berbagai permasalahan tersebut dengan menyebar kuesioner pendataan potensi tenaga kerja, termasuk data warga miskin.

Pemerintah kemudian menyiapkan pelatihan kerja yang digelar dalam beberapa tahap. Hasto juga mengatakan, relokasi gratis memang tidak memungkinkan kecuali menggunakan PAG. Dia lalu mengatakan akan berusaha mencari solusi lain untuk membantu warga miskin. “Kita upayakan dengan bedah rumah,” ucap Hasto.

Sementara itu, Project Manager Kantor Proyek Pembangunan Bandara NYIA PT Angkasa Pura I, Sujiastono menyatakan pemenang lelang pengadaan tim appraisal rencananya diumumkan pada Kamis (21/4/2016) nanti. Tim selanjutnya segera turun ke lapangan untuk melakukan penilaian dan penaksiran harga tanah setelah masa sanggah berakhir.

LOWONGAN PEKERJAAN
PT.Japantech Indojaya, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…