Pekerja mengankut perabotan rumah tangga milik Wati, salah satu penghuni rumah di eks lokalisasi Kedung Banteng di Sukorejo, Ponorogo, menggunakan pikap, Selasa (12/4/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Senin, 18 April 2016 13:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

PROSTITUSI PONOROGO
Terpaksa Pindah, Begini Kisah Eks Penghuni Lokalisasi Kedung Banteng

Prostitusi Ponorogo menyisakan kisah dari salah satu penghuni eks lokalisasi Kedung Banteng.

Solopos.com, PONOROGO —Pembongkaran bangunan di eks lokalisasi Kedung Banteng di Sukorejo, Ponorogo, beberapa waktu lalu menunjukkan keseriusan pemerintah setempat dalam memerangi prostitusi.

Bersamaan dengan pembongkaran tersebut, seluruh penghuni eks lokalisasi Kedung Banteng pun mau tidak mau meninggalkan lokasi tersebut. Salah satunya Wati, 65, yang mengaku telah belasan tahun tinggal di eks lokalisasi tersebut.

Saat sejumlah alat berat mulai difungsikan untuk membongkar bangunan di eks lokalisasi Kedung Banteng, Selasa (12/4/2016) pagi, Wati terlihat termenung di kursi depan rumahnya di bagian depan kawasan itu. Ia mengamati saat satu per satu bangunan kokoh yang terbuat dari bata, pasir, semen, dan lainnya mulai rata dengan tanah.

Sesekali Wati berbisik kepada tetangganya yang duduk di sebelahnya. Usai melihat eksekusi pembongkaran, Wati pun bergegas masuk ke dalam rumahnya dan mengemasi sejumlah perabotan rumah tangga yang dimilikinya.

Suara lantang Wati kemudian terdengar dan meminta pertolongan beberapa pemuda untuk mengangkut barang-barangnya ke mobil pikap yang telah disewanya.

Tak lama kemudian, terlihat berbagai perabotan rumah tangga seperti lemari, kursi, televisi, peralatan masak, dan lainnya memenuhi bak mobil pikap. Setelah itu, Wati duduk kembali ke kursi dengan menatap lalu lalang rombongan Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni serta puluhan orang yang melihat proses perobohan tempat itu.

Saat berbincang dengan Madiunpos.com, Wati mengaku warga Wonogiri, Jawa Tengah, yang telah bertempat tinggal di Kedung Banteng sejak belasan tahun lalu.

Saat pindah dari kampung halamannya, Wati menjual seluruh harta miliknya untuk membeli rumah di dalam kompleks prostitusi itu. Pada perkembangannya, Wati mampu membeli satu rumah lagi yang berada di luar kompleks lokalisasi Kedung Banteng, tetapi letaknya berada tepat di depannya.

Dia menceritakan dengan modal membeli rumah di lokalisasi itu, Wati bisa menghidupi dirinya yang hanya hidup sebatang kara. Ia mengaku menjual kopi, makanan, dan barang lainnya, sehingga setiap hari bisa meraup uang ratusan ribu rupiah.

Namun, setelah lokalisasi itu resmi ditutup pada pertengahan tahun 2015 oleh Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, harta yang tersisa adalah rumah yang berada di depan gerbang masuk lokalisasi itu. Saat penutupan, dia hanya diberi uang kompensasi senilai Rp4,3 juta. Padahal, rumah yang ada di dalam kompleks lokalisasi itu ia beli seharga Rp60 juta.

“Kalau dibilang rugi ya rugi, karena saya belinya Rp60 juta, tetapi cuma diganti Rp4,3 juta. Tetapi mau protes sama siapa. Ya dengan berat hati harus meninggalkannya,” ujar dia.

Sejak lokalisasi Kedung Banteng ditutup, pengunjung yang datang ke lokasi itu menurun drastis. “Pendapatan saya turun drastis, saat ini mendapatkan Rp50.000 per hari pun sudah bersyukur,” kata dia.

Pembongkaran bangunan di lokalisasi Kedung Banteng pun merembet ke kawasan sekitar lokalisasi itu. Akhirnya, dia pun diminta untuk pindah dari rumah itu. Kini dengan terpaks, Wati memutuskan pulang ke kampung halaman di Wonogiri untuk melanjutkan hidup.

Wati berencana akan hidup menumpang di rumah keluarganya di Wonogiri kemudian meneruskan usaha menjual makanan dan minuman. Dia mengakui ini akan menjadi babak baru dalam kehidupannya.

Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Ponorogo, Sumani, mengatakan ada sebanyak 176 pekerja seks komersial (PSK) dan muncikari yang ada di lokalisasi Kedung Banteng. Saat penutupan, seluruh PSK dan muncikari sudah diberi uang kompensasi sebagai modal mengawali hidup yang baru.

“Saat ini sejumlah PSK dan muncikari sudah pulang ke kampung halaman masing-masing. Sedangkan untuk PSK dan muncikari dari Ponorogo akan dilakukan pembinaan lebih lanjut,” kata dia.

lowongan pekerjaan
CV MITRA RAJASA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Musik untuk Palestina

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/12/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pendengar musik metal ala Timur Tengah. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin masalah lagi….