Suasana kawasan Benda Cagar Budaya (BCB) di Alun-alun Selatan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Senin (18/4/2016). Anggota DPRD Solo mengusulkan Alun-alun Selatan menjadi lokasi untuk menampung pedagang kaki lima (PKL) Sunday Market yang akan direlokasi dari kompleks Stadion Manahan. (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos)
Senin, 18 April 2016 16:15 WIB Chrisna Chanis Cara/JIBI/Solopos Solo Share :

PKL SOLO
Alkid Dilirik Jadi Opsi Relokasi Sunday Market Manahan, Ini Alasannya

PKL Solo, DPRD Solo mengusulkan Alun-Alun Kidul menjadi lokasi relokasi sunday market Manahan.

Solopos.com, SOLO–Komisi IV DPRD Solo mengusulkan Alun-alun Kidul (Alkid) Keraton Solo sebagai lokasi baru pedagang Sunday Market di Manahan. Hal itu seiring kebijakan Pemkot yang berencana mensterilkan kawasan Stadion Manahan dari aktivitas pedagang Sunday Market.

Ketua Komisi IV, Hartanti, mendukung kebijakan relokasi pedagang Sunday Market. Menurut dia, sudah saatnya kawasan stadion dikembalikan ke fungsi awal yakni olahraga. Namun pihaknya mengakui bukan hal yang mudah menentukan lokasi baru bagi seribuan pedagang Sunday Market.

“Sebelum memindah tentu harus ada solusi tempat baru yang representatif. Jangan sampai menimbulkan gejolak dan penolakan pedagang,” ujarnya saat ditemui wartawan di Gedung DPRD, Senin (18/4/2016).

Hartanti mengusulkan Alkid sebagai alternatif relokasi bakul Sunday Market. Kawasan Alkid disebutnya layak untuk menampung pedagang yang tercatat sekitar 1.100 orang. Usulan itu juga dinilai sesuai aspirasi pedagang yang ingin direlokasi di satu tempat.

“Dari segi luas dan waktu Sunday Market yang cuma lima jam sepekan, kami pikir Alkid opsi paling logis. Sunday Market juga dapat terintegrasi car free day setiap Minggu pagi. Masalahnya Alkid menjadi pengelolaan Keraton Solo. Butuh komunikasi.”

Politikus PDI Perjuangan (PDIP) ini melihat relokasi Sunday Market cukup mendesak melihat efek pasar tumpah tersebut. Selain mengganggu warga yang ingin berolahraga, aktivitas perdagangan mengotori kawasan dan merusak fasilitas publik seperti hutan kota. Hartanti kurang sepakat opsi penataan pedagang seperti yang diusulkan Paguyuban PKL Sunday Market.
“Mau ditata bagaimanapun sulit, wong PKL-nya sudah meluber sampai seribuan orang,” tuturnya.

Hartanti menilai luberan PKL tak akan terjadi jika dinas terkait ketat membatasi pedagang selepas relokasi pada zaman Wali Kota Joko Widodo. Waktu itu PKL dipindah dari depan kompleks stadion menuju area dalam stadion.

“Dulu meski ada Sunday Market, warga masih bisa berolahraga karena pedagang belum terlalu banyak. Sekarang seperti tanpa pengendalian.”

Ketua Fraksi Demokrat Nurani Rakyat DPRD, Supriyanto, kurang sependapat dengan rencana relokasi Sunday Market. Menurut Supri, kebijakan itu sama saja menekan ekonomi kerakyatan yang sudah terbentuk di Manahan.

“Tidak hanya pedagang, juru parkir juga hidup dari sana. Dampak relokasi tidak sebanding dengan efek ekonomi yang ditimbulkan,” ucapnya kepada Solopos.com.

Supriyanto menyarankan pedagang cukup ditata sesuai zonasi. Penataan juga perlu diiringi sanksi tegas bagi pedagang yang melanggar ketentuan. “Jadi ada keteraturan. Sunday Market ini kan cuma insidental. Jangan main hantam krama,” ucapnya.

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…