Hamparan padi di Desa Jurug, Kecamatan Sooko, Ponorogo, Sabtu (16/4/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Senin, 18 April 2016 09:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

PERTANIAN PONOROGO
Petani Keluhkan Harga Gabah Rendah Hanya Rp3.500/kg

Pertanian Ponorogo, harga gabah di Ponorogo masih rendah dan tanaman padi diserang hama.

Solopos.com, PONOROGO — Sejumlah petani di Ponorogo mengeluhkan harga gabah pada musim panen pertama yaitu hanya Rp3.500/kg. Padahal harga pokok pembelian (HPP) dari pemerintah senilai Rp3.700/kg.

Selain itu, pada musim tanam kedua tahun ini benih padi yang baru ditanam petani juga diserang hama, mulai dari wereng cokelat, ulat, hingga keong. Akibatnya, banyak tanaman padi yang rusak dan sebagian mati.

Salah seorang petani di Desa Jabung, Kecamatan Mlarak, Ratmin, mengatakan harga gabah pada musim tanam tahun ini masih rendah yaitu hanya Rp3.500/kg untuk gabah basah. Sedangkan untuk gabah kering seharga Rp4.500/kg.

Ratmin menyampaikan itu merupakan harga dari tengkulak yang biasanya mengambil gabah dari petani. Dia menuturkan petani di Desa Jabung jarang yang menjual ke Bulog karena faktor lokasi yang jauh. Sehingga, petani lebih sering menjual gabah ke tengkulak.

“Saya biasanya mengeringkan dahulu, jadi harganya bisa lebih tinggi. Tetapi, kalau menjual gabah kering memang membutuhkan waktu yang cukup lama,” ujar dia saat berbincang dengan Madiunpos.com, Minggu (17/4/2016).

Lebih lanjut, Ratmin menuturkan saat ini dirinya sudah memasuki masa tanam kedua. Namun, baru sepekan masa penanaman bibit padi sudah diserang berbagai hama seperti ulat, wereng cokelat, dan keong. Kondisi ini membuat petani mengambil langkah untuk memberikan pestisida kepada tanaman padinya.

“Saat panen harganya minim, tetapi saat menanam biayanya tinggi, itu belum saat padi diserang hama yang bisa membuat padi rusak hingga mati,” kata dia.

Petani lain, Sumiyati, mengatakan panen pada musim tanam pertama tahun ini memang cenderung lebih bagus. Namun, harga gabah dari tengkulak masih rendah dibandingkan HPP. Untuk itu, dia berharap pemerintah bisa menstabilkan harga gabah di pasaran.

Mengenai musim tanam kedua tahun ini, kata dia, sebagian benih padi yang baru ditanam sepekan lalu memang sudah diserang hama. Mengenai kondisi itu, biasanya dia menggunakan pestisida supaya hama yang menyerang tanamannya pergi.

“Beli pestisida juga membutuhkan modal yang cukup banyak. Sehingga, modal saat masa tanam sudah tinggi. Kalau tidak diberi pestisida ditakutkan tanaman akan mudah rusak hingga mati. Dan saat menjual gabah, harganya rendah,” kata warga Mlarak tersebut.

LOWONGAN PEKERJAAN
Editor Biologi, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…