Nunuk Suryani, Guru besar bidang Pendidikan Sejarah UNS Solo. (Septhia Ryanthie/JIBI/Solopos) Nunuk Suryani, Guru besar bidang Pendidikan Sejarah UNS Solo. (Septhia Ryanthie/JIBI/Solopos)
Senin, 18 April 2016 23:15 WIB Septhia Ryanthie/JIBI/Solopos Pendidikan Share :

PERGURUAN TINGGI
Ini Guru Besar UNS ke-177

Perguruan tinggi, UNS menambah guru besar di FKIP.

Solopos.com, SOLO–Universitas Sebelas Maret (UNS) menambah satu orang lagi guru besar, yaitu Nunuk Suryani, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Program Studi (Kaprodi) S2 Teknologi Pendidikan Program Pascasarjana Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS.

Upacara pengukuhan guru besar ke-177 UNS dan guru besar ke-55 di FKIP UNS tersebut akan digelar di Auditorium Kampus UNS Solo, Selasa (19/4/2016).

Nunuk selaku Guru Besar Teknologi Pembelajaran Sejarah ini, akan menyampaikan pidato pengukuhannya yang berjudul Pemanfaat Media Digital Untuk Meningkatkan Kualitas dan Daya Tarik Pembelajaran Sejarah. Melalui penelitian yang dilakukannya, Nunuk menilai meskipun saat ini teknologi telah berkembang pesat, pemanfaatannya sebagai media pembelajaran, khususnya oleh para pendidik atau guru, belum optimal.  Padahal menurutnya, berbagai teknologi yang ada saat ini bisa dimanfaatkan agar proses belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan, termasuk untuk Mata Pelajaran (Mapel) Sejarah.

“Saat ini di daerah Soloraya, termasuk Kabupaten Karanganyar, bahkan yang di pelosok-pelosok, hampir semua sudah ada fasilitas pembelajaran dengan media digital. Setiap guru bahkan sudah punya komputer, serta siswa pun mayoritas juga sudah punya perangkat mobile berbasis Android,” ungkap dia kepada wartawan, Senin (18/4/2016).

Perangkat tersebut menurutnya tidak hanya bisa digunakan untuk browsing namun juga untuk mengunduh materi yang dicari, termasuk referensj-referensi terkait Mapel Sejarah.

“Permasalahannya adalah belum semua guru memanfaatkan secara maksimal perangkat tersebut untuk mendukung pembelajaran di sekolah,” imbuhnya.

Sementara dalam pembelajaran sejarah, penggunaan media sangat diperlukan sebagai embusan udara segar di saat muncul anggapan bahwa pelajaran sejarah dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan. Hal ini muncul karena penyampaian materi yang monoton dengan metode ceramah, terlebih karena memang sejarah mempelajari event of the past.

“Itulah penggunaan media digital dalam pembelajaran sejarah sebagai sarana penyampai pesan sangat penting dan dibutuhkan,” tandasnya.
Lebih lanjut Ia mengatakan, hal ini setidaknya mampu memberikan rangsangan kepada siswa agar lebih tertarik dan lebih semangat untuk mempelajari sejarah terlepas dari persepsi yang salah besar. Dengan menggunakan media pembelajaran digital, guru bisa mengajak siswa melihat secara langsung wujud dari benda-benda peninggalan sejarah sehingga mereka tidak hanya menggambarkan dan berangan-angan terhadap wujud dari peninggalan-peninggalan sejarah.

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…