Petugas mencari korban di antara reruntuhan bangunan di Jepang (Reuters)
Senin, 18 April 2016 22:45 WIB Septina Arifiani/JIBI/Solopos.com Internasional Share :

GEMPA JEPANG
Pasca-Gempa, Pengungsi Krisis Makanan

Gempa Jepang membuat sebagian wilayah mengalami krisis makanan.

Solopos.com, KUMAMOTO – Pasar saham Jepang turun lebih dari tiga persen pada, Senin (18/4/2016) setelah serangkaian gempa bumi berkekuatan hingga 7,3 skala Richter mengguncang wilayah Kumamoto. Perusahaan-perusahaan besar memilih untuk menutup pabrik-pabrik mereka pascagempa.

Pabrik produsen mobil Toyota, Honda, dan Sony juga menutup pabrik mereka. Semua penerbangan komersial bandara Kumamoto dibatalkan, layanan kereta ke penjuru wilayah tersebut juga dihentikan.

Sekitar 30.000 tim penyelamat menjelajahi puing-puing untuk membagikan makanan kepada para korban yang tidak dapat kembali ke rumah mereka setelah hancur terkena gempa di Kota Kumamoto, Sabtu (16/4/2016). Hingga kini tim penyelamat masih berusaha mencari korban yang dinyatakan masih hilang tertimpa reruntuhan bangunan.

“Masih ada orang hilang. Kami ingin melakukan upaya lebih lanjut untuk menyelamatkan dan menyelamatkan orang-orang dan memprioritaskan kehidupan manusia,” kata Perdana Menteri Shinzo Abe seperti dikabarkan Reuters.

Distribusi makanan ke lokasi terdampak gempa tak berjalan lancar. Pengungsi membuat sinyal darurat dari kursi di taman bermain sekolah, berharap untuk mendapat perhatian helikopter membawa pasokan makanan.

“Kemarin, saya makan hanya satu bagian tahu dan bola nasi. Apa yang kami paling khawatirkan sekarang adalah makanan,” ucap Wali Kota salah satu daerah yang terdampak.

 

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…