Petugas memeriksa alat deteksi dini pergerakan tanah (landslide early warning system) di permukiman rawan longsor Desa Pucanganak, Kecamatan Tugu, Trenggalek, Jawa Timur, Jumat (15/4/2016). (JIBI/Solopos/Antara/Destyan Sujarwoko)
Senin, 18 April 2016 15:15 WIB Madiun Share :

BENCANA TRENGGALEK
BPBD Andalkan EWS untuk Pantau Pergerakan Tanah di Pucanganak

Bencana Trenggalek yakni pergerakan tanah di Pucanganak terus dipantau aparat terkait.

Solopos.com, TRENGGALEK – Pergerakan tanah di Desa Pucanganak, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, diprediksi masih akan terus terjadi dalam jangka panjang.

Oleh sebab itu, area permukiman yang berdiri di kawasan perbukitan Pucanganak yang mengalami pergerakan atau pergeseran tanah secara terus-menerus itu tidak layak untuk dihuni penduduk.

Hal itu diungkapkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek, Joko Rusianto, mengacu kesimpulan penelitian yang dilakukan tim geodesi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

“Tim geodesi UGM juga sudah memasang alat pedeteksi pergerakan tanah [landslide early warning system/extensometer] untuk membantu masyarakat melakukan langkah mitigasi saat potensi longsor terjadi,” kata dia di Trenggalek, Minggu (17/4/2016).

Joko menjelaskan sarana extensometer atau EWS itu terhubung langsung dengan jaringan satelit, sehingga saat terjadi pergerakan tanah pihaknya bisa langsung mengetahuinya dari pusat pengendali operasi (pusdalops) yang ada di markas BPBD Trenggalek.

Diberitakan, 21 bangunan yang terdiri atas 20 rumah dan 1 musala di Pucanganak retak-retak dan sebagian roboh lantaran terjadi pergerakan tanah. Pemerintah Kabupaten Trenggalek menggandeng tim geodesi UGM untuk meneliti fenomena itu.

“Kami sudah kerja sama dengan Fakultas Geodesi UGM yang dibiayai Badan Nasional Penanggulangan Bencana sejak enam bulan lalu untuk meneliti pergerakan tanah di Desa Pucanganak,” kata Joko Rusianto.

Berdasar penelitian tersebut, kata Joko, disimpulkan fenomena pergerakan tanah disebabkan adanya aliran sungai bawah tanah yang menyebabkan tanah di Dusun Sumbermadu Desa Pucanganak labil.

“Kemungkinan pertama ada sungai bawah tanah atau kemungkinan kedua karena ada semacam danau bawah tanah yang membuat struktur lempeng sangat labil,” ujarnya.

Sementara itu, sejumlah warga Dusun Sumbermadu RT 019/RW 008 Desa Pucanganak mengakui perangkat extensometer atau EWS yang terpasang membantu dalam mengantisipasi risiko longsor yang terjadi di sekitar pemukiman mereka.

“Sirine [EWS] berbunyi saat muncul pergerakan tanah, sehingga kami langsung keluar rumah dan mencari tempat aman,” ujar Marji, 45, warga setempat.

Ia mengatakan ada lima unit perangkat EWS dipasang di lokasi berbeda, dengan rincian dua pasang alat pendeteksi pergerakan tanah dan satu unit alat untuk mengukur curah hujan.

“Sarana pengukur curah hujan berfungsi untuk mengantisipasi aliran air atas permukaan yang bisa memicu pergerakan tanah dari luar yang berpotensi longsor,” kata sukarelawan Tim Reaksi Cepat (TRC) Desa Pucanganak Nur Rohmad.

lowongan pekerjaan
PT.SEJATI CIPTA MEBEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pembuang Makanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (30/11/2017). Esai ini karya Setyaningsih, esais dan penghayat pustaka anak. Alamat e-mail penulis adalah langit_abjad@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Tahun lalu ternyata Indonesia memiliki prestasi yang wah cenderung angkuh. Prestasi itu bukan kemenangan di bidang olahraga,…