Ilustrasi tanah longsor. (JIBI/Solopos/Antara) Ilustrasi tanah longsor. (JIBI/Solopos/Antara)
Senin, 18 April 2016 10:40 WIB David Kurniawan/JIBI/Indonesia Gunung Kidul Share :

BENCANA ALAM
Musibah Longsor Masih Mengancam di Zona Rawan

Hujan yang masih mengguyur menjadi salah satu indikator potensi musibah tersebut.

 

 

 

Solopos.com, PATUK – Badan Penaggulangan Bencana Daerah Gunungkidul meminta masyarakat untuk mewaspadai terhadap ancaman longsor. Hujan yang masih mengguyur menjadi salah satu indikator potensi musibah tersebut.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Sutaryono mengatakan, hujan yang terus mengguyur selama dua hari terkahir mengakibatkan longsor di Kecamatan Patuk dan Gedangsari.

Dari pendataan yang dilakukan petugas terdapat enam titik longsor. Rinciannya dua di Kecamatan Patuk yang terjadi di Dusun Putat II menimpa sebuah tebing yang mengakibatkan saluran air tertibun tanah. Lokasi kedua terjadi di Dusun Plumbungan, di mana lereng perbukitan ambrol dan menimpun wilayah pertanian.

Sementara itu, empat titik lainnya terjadi di Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari. Rumah milik Basuki34, di Dusun Mertelu RT 05 RW 03 Desa Mertelu dan rumah Sumarno,35, di Dusun Mertelu Kulon RT 02 RW 02 Desa Mertelu mengalami kerusakan karena tertimpa longsoran tanah bercampur batu.

“Kejadianya terjadi Sabtu [16/4/2016]. Di Gedangsari masih ada dua rumah yang tertimpa longsor, tapi kerusakannya relatif ringan,” kata Sutaryono kepada wartawan, Minggu (17/4/2016).

Dia menegaskan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa longsor di sejumlah tempat itu. Namun demikian, Sutaryono pun berharap agar masyarakat, khususnya di daerah rawan untuk tetap waspada. Hujan yang masih terus mengguyur menjadi salah satu penyebab terjadinya longsor.

“Kesiapsiagaan itu tetap dibutuhkan guna mengurangsi dampak dari risiko bencana,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Budhi Harjo telah mencabut status siaga longsor yang ditetapkan sejak awal tahun ini. status itu dicabut pada 1 April lalu, namun demikian warga diminta tetap waspada terhadap ancaman longsor.

“Meski status telah diturunkan, seluruh personel tetap disiagakan. Untuk warga kami minta untuk tetap waspada karaena hujan masih tetap turun,” kata Budhi.

Dia menjelaskan, zona rawan longsor terdapat di enam kecamatan, meliputi Patuk, Gedangsari, Nglipar, Ngawen, Semin dan sebagian Ponjong. Guna mengurangis risiko bencana, selain kewaspadaan dari masyarakat, BPBD juga terus mengembangkan desa siaga bencana.

“Harapanya dengan dibentuknya desa tanggap bencana, masyarakat bisa memiliki kewaspadaan bencana serta bisa mengambil tindakan yang benar saat musibah terjadi,” katanya.

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…