Sisa jalan setapak di bantaran Kali Code sebagian telah berubah menjadi bagian dari rumah. (Gilang Jiwana/JIBI/Harian Jogja) Sisa jalan setapak di bantaran Kali Code sebagian telah berubah menjadi bagian dari rumah. (Gilang Jiwana/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 18 April 2016 17:55 WIB Gilang Jiwana/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

BANJIR KALI CODE
Pemukiman Tak Terkendali Jadi Salah Satu Penyebab Banjir

Banjir Kali COde salah satunya karena pertumbuhan pemukiman tidak terkendali

Solopos.com, JOGJA-– Ketua Forum Komunikasi Winongo Asri Endang Rohjiani mengakui makin sering terjadi kasus tanggul yang ambrol. Penyebabnya adalah arus sungai yang kian deras dan membawa material yang hanyut

Endang mengatakan semakin banyaknya bangunan muncul di daerah tangkapan air membuat debit air sungai di Jogja semakin deras. Dulu, saat masih banyak tumbuhan di sekitar bantaran sungai air hujan yang turun di darat tak langsung mengalir ke sungai. Sebagian tertahan dulu oleh akar tumbuhan sebagai penghambar aliran.

“Jadi debitnya tidak langsung deras, air masuk sungainya sedikit demi sedikit,” ungkapnya baru-batu ini.

Kondisi berbeda terjadi saat ini. Menghilangnya tumbuhan di daerah tangkapan air membuat air langsung mengalir ke sungai. Luapan sungai pun tak terhindari dan menimbulkan arus deras yang merusak tanggul di perkotaan.

Situasi itu diperparah dengan adanya warga yang nekat membangun bangunan semi permanen di delta sungai. Material yang hanyut semakin menambah daya gempur sungai.

“Harusnya memang ada sumur resapan, tapi sekarang kan banyak juga perumahan di tepi aungai yang disemen tanahnya, jadi air tidak terserap dulu,” imbuh dia.

Pihak FKWA pun menurutnya tak tinggal diam. Secara mandiri mereka melakukan penanaman pohon di lahan-lahan di bantaran sungai yang tersisa. Mereka juga beberapa kali mencoba bernegosiasi dengan warga yang ingin membangun bangunan di bantaran untum mengurungkan niatnya atau menjauh dari bantaran.

“Tapi kami tak bisa memaksa, itu hanya sebatas saran saja,” tutur dia.

Manajer Pusat Pengendalian dan Operasi BPBD DIY, Danang Samsurizal mengatakan selain daerah tangkapan air yang terganggu, curah hujan yang tinggi menambah kemungkinan terjadinya luapan air. Kondisi itu diperparah dengan karakter sungai di DIY yang tergolong berarus cepat.

LOWONGAN PEKERJAAN
Taman Pelangi Jurug, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…