Demo ratusan warga yang tergabung dalam Wahana Tri Tunggal di PTUN Jogja, Senin (18/4/2016). (Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja) Demo ratusan warga yang tergabung dalam Wahana Tri Tunggal di PTUN Jogja, Senin (18/4/2016). (Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 18 April 2016 14:20 WIB Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

BANDARA KULONPROGO
Tolak Bandara, Warga Kulonprogo Berorasi di PTUN Jogja

Bandara Kulonprogo kembali mendapakan penolakan dari warga yang tergabung dalam Wahana Tri Tunggal

Solopos.com, JOGJA-Warga pesisir pantai Kulonprogo tetap menolak rencana pembangunan bandara internasional yang berdampak pada lahan pertanian mereka.

Penolakan itu disampaikan di halaman Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jogja, Senin (18/4/2016).

Melalui PTUN, mereka juga mengajukan peninjauan kembali (PK) atas putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) Nomor 07/G/2015/PTUN.Yk/456K/TUN/2015.

Dengan putusan MA tersebut maka Surat Keputusan Gubernur DIY Nomor 68/Kep/2015 tentang Penetapan Izin Lokasi Pembangunan (IPL) Bandara baru di DIY, sah.

“Semoga Sultan berkenan dukung pembatalan IPL bandara di Temon karena bandara tidak aspiratif, tidak mendukung kehidupan kami, karena latar belakang warga Temon adalah petani, dan peternak bukan pariwisata,” kata Ketua Paguyuban Wahana Tri Tunggal, Martono dalam orasinya.

Sekitar 300an warga yang hadir di PTUN Jogja mengawal pendaftaran PK atas putusan MA. Sebagian besar adalah kaum ibu, beberapa di antaranya juga terlihat anak kecil ikut dalam aksi tersebut. Mereka membawa sejumlah spanduk dengan berbagai tulisan. Misalnya, “Hukum jangan direkayasa,” bunyi tulisan itu, “Ora butuh relokasi gratis“.

Dalam aksi tersebut, mereka juga membawa dua burung dara beserta sangkarnya. Di atas sangkar tersebut dilengkapi dengan replika pesawat. Hal itu sebagai simbol warga Temon terbelenggu tidak bisa berbuat apa-apa dengan kekuatan investor.

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…