Ilustrasi (JIBI/SOLOPOS/Agoes Rudianto)
Minggu, 17 April 2016 01:20 WIB Mayang Nova Lestari/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

KONFLIK GUA PINDUL
Curahan Hati Pengelola Wisata Gua Pindul

Konflik Gua Pindul tidak membuat pengelola wisata di kawasan tersebut putus asa

Solopos.com, GUNUNGKIDUL— Konflik internal yang sedang memayungi para pengelola objek wisata Gua Pindul saat ini tak begitu menjadi permasalahan bagi salah satu pengelola, Karya Wisata.

Jika suatu hari Perda ditegakkan, maka Karya Wisata siap untuk melepaskan Gua Pindul. Meskipun selama ini juga menjadi bagian yang ikut andil dalam memasarkan wisata susur gua yang paling tersohor di Gunungkidul tersebut.

Terbentuk sejak 2013 lalu, Karya Wisata menjadi salah satu sekretariat pengelola wisata di Desa Wisata Bejiharjo. Karya Wisata berdiri secara mandiri dengan memegang dua destinasi wisata, yakni Gua Sriti dan Sungai Oya.

Tak berbeda jauh dengan Gua Pindul, Gua Sriti juga memiliki pesona keindahan alam dalam gua yang dapat memikat hati para pengunjungnya.

Selama ini nama Gua Sriti memang tak semerdu Gua Pindul di kalangan masyarakat luas, namun Gua Sriti menjadi salah satu destinasi yang dibanggakan karena dirasa lebih memicu adrenalin wisatawan yang berkunjung dibandingkan Gua Pindul.

Sutarno, salah seorang pengurus harian Karya Wisata menuturkan bahwa Karya Wisata selama ini berkembang cukup mandiri. Dalam artian tak bergantung banyak pada Gua Pindul.

Pasalnya Karya Wisata memang berdiri bukan karena pengaruh Gua Pindul yang booming pada saat itu (Saat Karya Wisata Berdiri tahun 2013). Karya Wisata berdiri dengan memegang dua dsetinasi sendiri.

Sutarno tak ingin menjadi penonton atau kalangan yang dikatakan ikut-ikutan, maka pada 2013 lalu ia bersama beberapa orang sepakat untuk mengurus Gua Sriti dengan bermodalakn iuran perseorangan hingga tekumpul rupiah senilai Rp200 juta. Bermodalkan jumlah rupiah tersbut, akhirnya renovasi dan pengembangan Gua Sriti sebagai destinasi wisata akhirnya terwujud.

Maskipun begitu, Sutarno mengakui bahwa Gua Sriti belum dapat booming hingga saat ini jika dibandingkan dengan Gua Pindul. Namun, seiring berjalannya waktu, dengan berbagai usaha dilakuakan untuk mengangkat nama Gua Sriti perlahan ke telinga masyarakat cukup berhasil. Buktinya beberapa kali pihaknya mendapat permintaan memandu wisata untuk wisatawan yang berjumlah hingga ratusan.

“Rejeki tidak akan jauh perginya, insya allah Sriti masih bisa dilirik oleh wisatawan,” kata dia, Rabu (13/4/2016).

Kebijakan pemerintah kabupaten Gunungkidul yang berencana akan menertibkan pengelola Gua Pindul berdasarkan perda no 5 tahun 2013 tentang penyelenggaraan kepariwisataan yang menegaskan bahwa satu destinasi harus dikelola oleh satu pokdarwis, tidak menciutkan harapan Karya Wisata untuk terus berkembang di Desa Wisata Bejiharjo tersebut.

Meskipun diakui Sutarno bahwa selama ini Karya Wisata memang turut bekerjasama dengan Pokdarwis Dewa Bejo sebaagai Pokdarwis resmi Gua Pindul utnuk mengembangkan Gua Pindul.

“Kalaupun Gua Pindul akhirnya hanya diurus oleh satu pengelola saja, kami tidak keberatan. Karena masih ada Sriti dan Sunga Oya,” kata dia.

Ia hanya berharap pemerintah dapat tegas dalam menegakkan perda. Menurutnya Perda harus dilakukan peninjauan ulang terkait dengan peraturan yang berada di dalamnya. Jika tidak, maka dikhawatirkan gejolak Pindul masih akan terus berlangsung entah sampai kapan.

Selain itu, Sutarno juga berharap pemkab dapat memberikan perhatian kepada delapan destinasi lainnya di desa wisata Bejiharjo. Ia mengatakan selama ini Gua Sriti belum pernah mendapatkan bantuan secara materiil dari pemerintah.

lowongan pekerjaan
CV MITRA RAJASA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…