Tumiyem menunjukkan sanggul buatannya, ia memproduksi sanggul di Dusun Cepoko, Trirenggo, Bantul, Rabu (30/3/2016). (Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja) Tumiyem menunjukkan sanggul buatannya, ia memproduksi sanggul di Dusun Cepoko, Trirenggo, Bantul, Rabu (30/3/2016). (Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja)
Minggu, 17 April 2016 12:20 WIB Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

KISAH INSPIRATIF
Tumiyem Menjaga Tradisi dengan Membuat Sanggul

Kisah inspiratif Tumiyem ini bisa menjadi teladan

Solopos.com, BANTUL– Salah satu usaha untuk tetap menjaga dan mempertahankan kebudayaan dilakukan oleh para perajin sanggul, selama 15 Tahun Tumiyem mampu bertahan untuk membuat sanggul demi niatnya untuk melestarikan kebudayaan di Indonesia.

Tangan tua Tumiyem masih begitu lincah saat menyisiri potongan-potongan rambut yang akan ia gunakan sebagai bahan baku membuat sanggul. Gerakan tangannya sudah sangat terlihat bahwa ia sangat fasih dalam menekuni pekerjaannya sebagai perajin sanggul.

Sudah 15 tahun lamanya Tumiyem menjadi perajin sanggul dan tak terhitung sudah berapa banyak sanggul yang ia buat.

Menjaga serta melestarikan kebudayaan menurut Tumiyem tidam melulu secara gamblang diperlihatkan, disadari atau tidak bahwa sanggul yang ia buat menurutnya adalah salah satu caranya untuk menjaga serta melestarikan tradisi.

Pasalnya selama ini sanggul-sanggul yang dibuat oleh Tumiyem merupakan sanggul yang digunakan untuk acara-acara adat bahkan untuk busana kedaerahan.

“Secara tidak langsung berarti saya juga menjaga dan melestarikan budaya, karena sanggul yang saya buat ini adalah sanggul yang biasa digunakan untuk acara adat. Sanggulnya juga bermacam-macam jenisnya, ada Sanggul Solo, Sanggul Jogja, Sanggul Betawi, Sanggul Bali, dan dari daerah lainnya di Indonesia,” kata wanita paruh baya tersebut.

Dalam waktu satu bulan, Tumiyem yang dibantu oleh adik dan ibunya dalam membuat sanggul setidaknya membutuhkan 1 kuintal rambut untuk memenuhi semua pesanan yang ia terima.

Melalui pengepul ia mendapatkan bahan tersebut dari salon-salon kecantikan di wilayah DIY dan Jawa Tengah, ketika bahan baku mulai susah didapat terpaksa ia harus mengeluarkan tenaga yang lebih untuk keliling mencari bahan sendiri.

“Bahan bakunya saya dapat dari pengepul, didapat dari salon-salon itu di wilayah DIY dan Jawa Tengah. Tapi kalau bahan bakunya susah terpaksa saya harus mencari sendiri,” ujarnya

Dalam pembuatan sanggul memang ia menggunakan dua jenis rambut, rambut asli dan rambut sintetis. Masing-masing bahan tersebut pastilah memiliki kelebihan dan kekurangan, bahkan pasarannya pun juga berbeda.

“Memang penjualan utama di Pasar Beringharjo, namun kadang salon-salon untuk rias pengantin juga sesekali memesan kepada saya. Untuk sanggul sendiri ada dua macam yang rambut asli dan rambut sintetis, jelas ada perbedaannya dari segi kualitas dan harganya juga berbeda,” katanya sembari terus menyisiri dan merangkai potongan rambut menjadi sebuah pola sanggul.

Sebenarnya dalam membuat sanggul prosesnya terbilang cukup rumit karena harus melalui proses sekitar empat tahapan, namun Tumiyem mengaku bahwa sepertihalnya perajin lain semakin lama pastilah pengalamannya semakin banyak, sehingga karena sudah terbiasa jadi gampang.

Karena bahan rambut yang ia dapat memiliki panjang yang tidak sama, ukuran sanggul yang biasa Tumiyem buat terbagi dalam tiga macam, kecil, sedang, dan besar. Ukuran sanggul tersebut pastilah mempengaruhi harga jual sanggul.

“Sanggulnya dijual dari harga Rp10.000 hingga Rp35.000, kisaran harga tersebut disesuaikan dengan jenis bahan rambut dan ukuran sanggul,” imbuh Tumiyem.

Pesanan sanggul hingga saat ini masih ada saja, namun karena keterbatasan modal yang berpengaruh dengan ketersediaan bahan baku membuat produksi sanggul Tumiyem susah berkembang.

Ia mengharap semoga nantinya ia dan para perajin sanggul lainya mendapat perhatian lebih dari pemerintah atau instansi lainnya, agar para perajin sanggul khususnya yang berada di Desa Cepoko, Trirenggo, Bantul mampu mengembangkan usahanya menjadi lebih besar lagi.”

“Sampai saat ini memang tidak dipungkiri kendala utama masih seputar masalah modal, saat saya ingin mengembangkan usaha butuh modal yang besar,” papar Tumiyem.

LOWONGAN PEKERJAAN
SUPERVISOR JAHIT & PENJAHIT HALUS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…