Prajurit TNI dan BPBD Trenggalek membantu warga membongkar rumah yang terancam longsor di Desa Pucanganak, Kecamatan Tugu, Trenggalek, Jawa Timur, Jumat (15/4/2016). (JIBI/Solopos/Antara/Destyan Sujarwoko)
Minggu, 17 April 2016 11:05 WIB JIBI/Solopos/Antara Madiun Share :

BENCANA TRENGGALEK
21 Bangunan di Pucanganak Retak dan Ambles, Warga Diungsikan

Bencana Trenggalek ini terkait bangunan retak di Pucanganak.

Solopos.com, TRENGGALEK – Sebanyak 21 bangunan yang terdiri atas 20 rumah dan satu musala di Desa Pucanganak, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, rusak permanen yang ditandai dinding retak dan lantai ambles, diduga akibat pergeseran tanah yang berpotensi longsor.

“Retakan dinding dan lantai sudah mulai muncul sejak 2011 dan terus berlangsung hingga sekarang,” kata Kepala Desa Pucanganak Hadi Sumanto di Trenggalek, Kamis (14/4/2016).

Menurut Hadi, pergerakan tanah paling parah terjadi di Dusun Sumbermadu, Desa Pucanganak. Di wilayah pedukuhan tersebut, kata dia, retakan dinding dan lantai rumah warga sudah tergolong parah sehingga tidak layak huni.

“Sesuai dengan kajian dari UGM lokasi ini memang tidak layak huni, karena tanahnya memang cukup labil dan rawan longsor,” kata dia.

Ia mengatakan seluruh bangunan yang ada di zona merah rawan longsor di Dusun Sumbermadu RT 019/RW 008 Desa Pucanganak wajib dikosongkan.

“Pak Bupati Emil [Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak] sudah meninjau ke sini dan menginstruksikan untuk melakukan evakuasi terhadap seluruh warga demi menyelamatkan warga dari risiko bencana yang lebih buruk,” ujarnya.

Ia memperkirakan luas areal tanah yang mengalami pergeseran dan mengalami rekahan di sejumlah titik mencapai sekitar 10 hektare.

Menurut Hadi, fenomena pergerakan tanah telah terjadi sejak 2011 sehingga menyebabkan tanah mengalami rekahan memanjang dan sebagian mengenai bangunan rumah penduduk sehingga retak-retak di bagian dinding serta lantai.

Warga Desa Pucanganak Nur Ilmiah mengatakan retakan yang terjadi di puluhan rumah penduduk tersebut dipicu oleh kondisi tanah yang labil dan terus mengalami pergerakan.

Menurut dia, saat ini ada 20 rumah dan satu bangunan musala tidak layak huni, mengingat retakan yang terjadi cukup lebar dan menghawatirkan.

“Jam 01.00 WIB ada reruntuhan sedikit demi sedikit, kemudian jam 03.00 WIB sudah ambrol. Kami akhirnya mengungsi ke atas situ, karena semua retak. Rencananya akan pindah tapi belum tahu di mana, belum ada tanah,” katanya.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Muspika Tugu mengungsikan seluruh warga ke rumah penduduk yang lebih aman.

Pada Jumat (15/5/2016), para anggota TNI bersama warga merobohkan secara bertahap sejumlah rumah penduduk yang berada di area rawan longsor Desa Pucanganak.

Aksi gotong-royong yang dimulai sejak pukul 07.00 WIB hingga siang tersebut melibatkan puluhan anggota Koramil Tugu, personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta warga sekitar.

“Sampai hari ini, sudah empat rumah warga yang kami robohkan karena kondisi rekahan tanah semakin parah dan bangunan ambles serta retak-retak,” kata Kapten TNI Imam Ansori, Plt Danramil Tugu.

“Pembongkaran tidak bisa sekaligus dan harus bertahap karena banyaknya barang serta material bangunan yang harus dievakuasi. Selain juga keterbatasan tenaga,” ujar dia.

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…